sehelai Bendera


“Mesin jahit ibu rusak nak,tak apa kalau ibu jahit pakai tangan” ucap ibu seraya membentangkan dua helai kain berwarna merah dan putih itu.
Ades tersenyum,”Taka apalah bu,bukankah ibu fatmawati pun menjahit bendera pertama kita dengan tangannya sendiri”
Ibu tersenyum.
Ini merdeka.Merdeka yang lirih.

“Aku tak punya uang lagi,ini yang kemarin aku kumpulkan untuk membeli sampul buku”ucap Emi seraya memberikan dua lembar uang lusuh ke Ades.
“Aku juga sama,ibu tak memberiku uang hari ini karena kemarin aku mencuri dagangannya tapi aku punya ini sedikit sisa uang jajanku kemarin” ujar Bose.
“Trimakasih teman,apa kalian tidak keberatan dengan ini?”
“Tidak apa Ades,bendera sekolah kita sudah sangat lusuh sekali sampai aku malu melihatnya biarlah kali ini kita memberi warna baru pada tiang abu-abu itu”.
“Ya,memaksa pak guru membelikan bendera baru pun rasanya tidak mungkin,jadi tidak apalah kali ini aku merelakan uangku yang hanya sedikit itu”.

Ades berjalan dengan penuh senyum,ditangannya kini ada dua helai kain berwarna merah dan putih.Memang bukan kain yang terbagus dan termahal karena uangnya pun tidak cukup,tapi lebih baiklah bila dibandingkan dengan kondisi bendera mereka di halaman sekolah yang sudah sangat usang itu,jika bendera itu bisa bersuara berkibar pun rasanya ia sudah enggan melihat kondisinya.Bangunan sekolahnya sudah sedemikian buruk,sebagian hancur dan bocor Ades terenyuh tapi tak mampu berbuat apa pun,kata pak Mirza bantuan dari pemerintah sudah lama tidak mampir karena letak sekolah mereka yang terpencil.
Ades tentulah sedih melihat sekolahnya yang lapuk,untunglah ia tidak tinggal di kota dan harus menahan iri melihat sekolah-sekolah lainnya yang buatnya sangatlah bagus.Tetapi kali ini Ades bertekad,Hari kemerdekaan kali ini haruslah ada sesuatu yang berbeda,agar saat teman-temannya member I hormat ketika upacara nanti ada rasa bangga di dalam diri mereka akan negerinya.
Ades menangis ketika lagu kebangsaan di nyanyikan oleh teman-temannya satu sekolah yang tidak banyak itu.Suaranya tidak merdu tidak pula garang,tetapi tak menghilangkan perasaan bangganya pada bendera merah putih yang semalam di jahit ibunya itu.Ia bangga menjadi satu bagian dari negerinya meski terpencil.Ia bangga melihat kibarannya yang tertepa angin pantai.Ia pun membayangkan teman-temannya di seluruh negeri sedang melakukan hal yang sama saat ini,menghormati sang merah putih.

Ya,ini upacara kemerdekaannya yang kelima di sekolah ini,Ades bertekad dimanapun kakinya berpijak kelak atau malah hanya terantai di desanya ini ia tetap akan melakukan upacara bendera pada tanggal tujuh belas agustus.