Seorang Office Boy


Kisah ini terjadi sudah sangat lama sekali tapi akan selalu membuat saya berkesan dan selalu untuk melihat sekeliling.Dan saya masih menjadi seorang respsionis manis (Baiklah,ini pernyataan yg MAKSA 😀 )di sebuah perusahaan manufaktur,yup,resepsionis manis dengan pekerjaan yang lumayan..lumayan membosankan..angkat telepon!paging ,dan sebagainya.

Hari itu mungkin adalah hari tersibuknya bagi seseorang bernama Daul,ya bisa dibilang setiap menit telepon masuk dari internal.

“Mbak,bisa panggilkan Daul,ditunggu di head office” ,

selang tak berapa lama kemudian seorang staff turun dan meminta ,”Mba,bisa di paging nama Daul untuk datang kelobby”

kalau dihitung-hitung dalam sehari itu saya bisa memanggil seseorang bernama Daul,baik lewat telepon ataupun lewat paging puluhan kali.Dan seperti rumpiers yang bisa bayangkan nama Daul itu menggema keseluruh pabrik puluhan kali pula melalui suara saya.

Ditengah kesibukan saya tersebut duduklah seorang staff yang masih sangat baru di lobby.melihat saya berkali-kali memanggil seseorang bernama Daul ia rupanya penasaran dan menghampiri saya,

“Mba,Daul itu supervisor atau manager ya,,kayanya orang yang penting banget,seharian ini saya denger mba manggilin dia terus”.

Saya tersenyum,mau menjawab tapi sibuk memilih kalimat yang enak di dengar.

Belum sempat saya menjawab,pintu pembatas antara lobby dan pabrik terhempas keras,seorang office boy berseru dan memanggil ” Daul!! Udah anterin kopinya ke factory satu belum?!”.

Pria bernama Daul itu,mendorong sebuah dolly kecil berisi alat-alat kerjanya sebuah ember,kain pel dan alat pembersih kaca.

Staff baru itu hanya melongo saja,”Daul itu office boy mba”

Saya tersenyum dan tak menjawab pertanyaannya.

“Yang seharian ini saya denger di panggilin terus-menerus itu office boy?” tanyanya masih dengan wajah tak percaya.

Seorang senior yang sedari tadi menyimak ketika sedang menitipkan faktur di meja saya pun ikut berkomentar:

“Memang pekerjaannya Cuma tukang bersih-bersih mas,tapi dia dibutuhkan oleh semua orang di pabrik ini,untuk membersihkan lobby ini,untuk mengantar minuman dan lain-lain ,bahkan sampai hal sepele seperti membuang tumpukan sampah di jalan pun dia dibutuhkan,bahkan direktur pun belum tentu sukses menjalankan perusahaannya tanpa bantuan dia”.

Saya mengangguk dan Staff baru itu lagi-lagi hanya terdiam.

Note: Sudah diposting juga di : http://ngerumpi.com/baca/2011/10/08/office-boy.html