Dieng – Pesona Negeri di Atas Awan


Perjalanan ini sudah lama sebenarnya tetapi sensasinya akan selalu terasa. Saya menyukai hawa gunung di banding laut,baunya dinginnya dan kabutnya entahlah seperti menimbulkan rasa lain ketika berada disana. Perjalanan ke Dieng ini saya maksudkan untuk mengisi tahun baru bersama sahabat yang punya rasa nekad yang sama, berangkatlah kami berdua dari Jakarta menuju Wonosobo dan akan bertemu lagi dengan sahabat yang sudah lebih dulu sampai disana.

Perjalanan yang panjang, melelahkan tapi juga menyenangkan. Sepanjang jalan disuguhi dengan pemandangan yang indah dan warga yang ramah. Sampailah kami di sebuah wisma dengan pemilik yang ramah pula. Sore yang berkabut kami diajak berkeliling melihat candi-candi di sekitar yang usianya ratusan tahun bersama dua orang sahabat baru yang kebetulan satu wisma. Jika berdiri di arah yang tepat, akan terlihat sebuah pemandangan yang indah, jejeran candi dengan kabut yang rendah seperti gambaran kahyangan,Saya suka!.

Keesokan paginya kami diajak mendaki puncak gunung sikunir untuk menyaksikan sunrise. Butuh tenaga kuat untuk melawan dingin dan angin yang menusuk plus kaki yang kuat untuk melangkah naik keatas. Usai perjuangan itu, menikmati sunrise dengan main spot nya adalah gunung sindoro rasanya tak ingin beranjak saja. Usai turun kami pun melanjutkan dengan berkeliling melihat kawah-kawah lama maupun baru yang airnya meletup-letup, sebuah telaga, dan sumur alam yang menurut warga sekitar jika berhasil melempar sebuah batu tepat di tengah permintaannya akan terkabul.

Well..selain pesona nya Dieng pun menyimpan sejarahnya sendiri seperti peristiwa bencana di tahun 1985 karena struktur datarannya yang mengandung karbon dioksida, itu yang kami dapatkan usai menonton di Dieng Plateau Theatre.

Perjalanan ke Dieng selalu ingin membuat saya kembali lagi.Entah, kapan.