Nikmati apa yang ada, Ga perlu Ngoyo


Setiap pagi saya menghabiskan waktu untuk sarapan di kantin perusahaan. Disitu sayah bisa menemukan orang – orang yang saya kenal maupun yang memang belum saya kenal karena mereka masih baru.

Di kantin itu pula sayah terbiasa mengamati teman – teman sayah tersebut, mendengar berita terbaru mereka, dan mengingat apa yang bisa sayah ingat tentang mereka di memory saya.

Suatu pagi, di tengah sesi makan pagi sayah itu seorang teman menyeletuk setelah melihat rombongan anak – anak yang akan berangkat training ke luar negeri. ” Lo ngiri gak neu ? nyesel gak ? anak-anak angkatan lo udah pada sukses, udah pada bisa training ke luar ?” begitu celetuknya.

Sayah kemudian melirik saja sambil tersenyum kecil, ” Kenapa harus ngiri ? toh udah rejekinya”.

Kemudian teman sayah itu menggerutu  lebih tepatnya berkeluh kesah tentang anak-anak baru tersebut. Sayah menyimak seraya menghabiskan sarapan pagi sayah.

Ngiri ? yah, kenapa sayah harus iri dengan keberhasilan mereka ? kenapa saya harus ngoyo untuk mengejar karir di sini ? kenapa saya harus memaksakan diri jejak mereka ? kenapa ?

Saya bahagia dengan apa yang saya miliki sekarang. Saya buruh melakukan pekerjaan seorang buruh tetapi sayah memiliki apa yang di sebut bakat, saya bisa menikmati setiap hobi saya menumpahkan semua ide dan keluh kesah ke dalam aksara, Sayah masih bisa menikmati kuliah dan bertemu dengan orang – orang hebat di luar sana, dan dengan gaji yang tidak terlalu besar sayah masih bisa menikmati kehidupan mengasyikkan seorang single, dimana ketika mereka sibuk memeras keringat banting tulang justru sayah menikmati setiap kegiatan Me Time bersama teman-teman dan komunitas, sayah pun masih bisa meluangkan dan menikmati jatah cuti dengan menghabiskan waktu untuk berlibur.

Untuk apa iri ? setiap orang sudah di beri batas garis kesuksesannya masing – masing dengan cara masing – masing juga. Lagipula definisi kesuksesan bagi setiap orang kan berbeda, dan ukuran yang kita tetapkan belum tentu di amini oleh orang lain.

Didalam teori maslow ada point kebutuhan tentang aktualisasi diri atau pengakuan. Yep, saya yakin setiap orang butuh mengaktualisasikan dirinya sendiri, entah di lingkungan kerjanya ataupun di lingkungan lain. Bagaimana dengan sayah ? yep, saya pun membutuhkan apa yang di sebut aktualisasi diri tersebut tetapi dengan cara sayah sendiri, dengan jalan yang saya inginkan sendiri.

Mungkin tersengar egois dan sombonginis..tetapi apa yang sayah tulis itulah yang sayah pikirkan. Sebagai jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan teman sayah di kantin pagi itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s