Excessive


Upps. Seharusnya saya tidak meracau di hari pertama puasa ini, tetapi sebagai kompromi sayah tidak akan melakukannya ( meracau secara lisan ) tetapi lewat tulisan.

Okesip!

Iyah. Baru saja sayah di mencak-mencak(i) seorang teman, gegara foto beliau yang iseng-iseng sayah aplod di situs pertemanan. Dilihat secara seksama, ditilik-tilik, di terawang kayaknya sih bukan foto yang mengada-ada. Bukan foto syur ala miyabi atau foto seseksi Sarah Azhari, cuma foto seorang perempuan sedang menikmati sahurnya dengan harapan dapat menjalankan puasa sampai selesai.

Kadang orang berekasi terlalu berlebihan terhadap sesuatu yang nggak penting sama sekali.

Baik, kekurangannya ia tidak sedang tersenyum. Lhaa, wong namanya lagi makan mosok’ disempet-sempetin buat tersenyum, orang saya ngambilnya juga iseng kok.

Selesai saya edit, perhalus teknik gambarnya, di kasih efek dramatis dengan aplikasi dari ponsel, hasilnya malah terlihat artistik ( menurut sayah). Namanya situs pertemanan dengan jangkauan luas, tanpa berfikir untuk menjatuhkan seseorang ataupun berniat buruk (yeaah, karena menurut sayah itu foto biasa lhooo, bukan foto yang mengandung unsur pornography) jadilah sayah aplod.

Ealaaahhh…Beberapa jam kemudian, sayah di telepon, dimencak-mencaki, di omeli seolah lima menit yang lalu saya baru saja mencuri ayam! Helooouuuu!!

Sayah di bilang ingin menjatuhkan, sayah di bilang berniat buruk, sayah di bilang..bla…bla…bla..

Anggaplah sayah menghadapi senior yang usianya jauh diatas saya. Anggapalah sayah menghadapi seseorang yang umur pertemanannya dengan sayah pun baru seumur jagung. Maka anggaplah sayah tidak pernah tahu karakternya dan ia belum mengerti sifat keisengan sayah.

Anggaplah ia tidak menyukai keisengan sayah dan seperti ucapannya ” gue Bukan selebritis yang harus dibikin begini“,, tapi sayah juga tidak berhak untuk di tuduh dengan rentetan kalimat yang mbaknya bilang di atas lhooo…

Ahhh, malas sayah membuang energi dengan amarah yang sama. Kalau saya membalas beliau dengan ocehan-ocehan gak perlu. Baiklah, karena sayah tidak mau berlama-lama berada dalam perselisihan, sedikit mengalah pun tak membuat rugi.

Bukankah meminta maaf lebih terlebih dulu itu sikap bijaksana ?

Iyah. Sedikit merendahkan diri, akhirnya keluarlah ucapan permintaan maaf sayah itu. Ahhhh, terdengar dari sana sedikit belum puas sih dengan maaf sayah tersebut tapi yaah, sayah menjalani sikap kemanusiaan sayah jika melakukan kesalahan, yaitu meminta maaf.

Perkara beliau mau memaafkan, atau menunda memberi maaf karena ingin berlama-lama berselisih paham yah itu urusannya dengan YME.

Meminta maaf gak susah kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s