Pengajian, soal kebiasaan dan Bebe


Minggu ini sayah termasuk sibuk di rumah. Dalam rangka pernikahan si adek, mungkin sayah yang paling banyak sibuk. Seperti mempersiapkan acara pengajian walimahan, sedari pagi sayah sudah membantu orang rumah membersihkan tiap sisi rumah, menyikat teras misalnya.

Lumayan pegel. Secara baru pulang shift malam juga, langsung kerja. *ngeles*

Jelang sore lebih banyak lagi yang harus di persiapkan. Sayah membantu memasukkan menu untuk hantaran pulang ibu-ibu pengajian nanti ke dalam kotak nasi dan kotak snack.
Satu persatu akhirnya bantuan datang, selesailah hantaran sebanyak emapat puluh kotak itu.

Ibu-ibu pengajian yang kebanyakan teman nyokap mulai berdatangan. Duduk rapi, okey, satu hal yang menggelitik adalah : Ibu – ibu pengajian itu rata-rata rumahnya dekat dengan rumah sayah, karena berada di satu komplek. Tetapi mereka datang dengan rapi dan masing-masing menjinjing tas, yang mungkin ukurannya lima kali lebih besar dari pada ukuran buku yasin yang akan di pakai.

Kemudian acara pun di mulai, dengan lantunan ayat suci alquran, kirim doa untuk yang meninggal dan membaca yasin. Setelah itu acara di lanjut lagi dengan rawi’, doa, dan ceramah singkat.

Huuftt..sebuah rangkaian acara yang panjang. Mungkin karena saya belum pernah mengikuti beginian, karena sayah bisanya mengaji sendiri, jadi membuka wawasan juga tentang adat dan kebiasaan masyarakat di lingkungan sayah tinggal. Betapa sayah kelimpungan ketika seorang ibu meminta sayah menyiapkan minyak wangi, dan sayah kebingungan untuk apa minyak wangi di hadirkan di acara ini.

OOoooOOOOO…..

Rupanya, minyak wangi itu akan dipakai ketika calon manten yang notabene adik saya di haruskan mengelilingi ibu-ibu pengajian dan memberi salam serta mencium tangan, lalu minyak wangi tersebut di semprotkan kepada ibu-ibu pengajian itu. Hihihihihi.

Ahhhh,, akhirnya acara pengajiannya selesai. Usai menutup doa dan membagikan hantaran para tetamu itu pulang kerumahnya masing-masing. Giliran sayahnya yang kebagian tugas lagi. 😀

oH Yaa..yang menarik perhatian sayah semalam itu. Ternyata diacara pengajian yang seharusnya di jalankan dengan khusyuk itu masih ada aja ibu-ibu yang curi-curi kesempatan main Bebe..yah. Menggelikan.

6 thoughts on “Pengajian, soal kebiasaan dan Bebe

  1. Coretan Kecil Nita says:

    Jadi mikir,, kalau ga dijaga dan diuri-uri, mungkin kebiasaan pengajian untuk nikahan anak-anak kita *eeeh* akan hilang ya… 🙂

    Si IbuYangBawaTasSegedeGambreng mungkin selain pengen dapet kotak nasi, kotak kue, juga pengen masukin Anne n dibawa pulang *kepruk*

    You’re great sista, peluuuuuk 🙂

    Like

    • spicypizza says:

      itulaahh…makanya,,,setiap lingkungan pasti punya kebiasaan yang beda, meski intinya sama. Minta doa supaya hajatnya di lancarkan.

      Akuh di masukin tas ? jangaaaannn…buuu… ……………………………..kecuali klo punya anak ganteng…hihihihih

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s