Budaya Surat Menyurat..yuk.


Sahabat Pena.

Sudah lama sekali sayah tidak mendengar istilah itu lagi, setelah sekian lama lulus dari sekolah dasar dan meninggalkan era majalah bobo 😀
Hmmm, bayangan sayah di jaman kecil yang notabene teracuni oleh indahnya kisah pertemanan di majalah anak-anak itu adalah,punya teman dari seluruh Indonesia hingga ke desa terpenci dan saling berkomunikasi lewat surat, saling memberi kabar dan keadaan di tempat masing-masing.

Okeh dua puluh tahun (sekian) kemudian, sayah mulai melupakan kegiatan tulis menulis itu, dan lebih banyak bergumul dengan benda ajaib bernama laptop dan ponsel, dimana didalamnya sayah tetap bisa berinteraksi dengan teman-teman dari seluruh Indonesia bahkan dunia lewat dunia maya.

Hingga sebuah ide muncul.

Berawal dari twit yang muncul di timeline saya, antara intan dan Mbak nita, yang menggagas untuk berkirim surat. Untuk info, sahabat sayah intan tersebut berdomisili di Aceh, sementara Mbak nita di Jakarta,pun.

Sayah pun berniat ikutan dan saling bertukar alamat rumah. Dan..

Voilaaaaa….

Sebuah surat sampai dari Aceh. Dari Intan.

Tanya saya, gimana rasanya ketika membuka amplop putih itu.

Cengengesan. geli. Dan pengen ngakak.

Saya gak pernah buka surat pribadi begini, biasanya buka surat tagihan, surat pemberitahuan dan surat gak resmi. Tapi begitu buka surat ini rasanya…cetar-cetar membahanaaaaaaa… :))))

Serius…sayah cengengesan lho sebelum buka suratnya Intan.

Sayangnya sayah gak ngalamin yang namanya Edisi pacaran pake surat cinta yah,, kalaupun iyah, pastinya tuh surat waktu sayah mau buka keburu pingsan duluan.

Dan akhirnya terbacalah isinya. Tentang bertukar kabar, tentang pertemuan pertama kali alias kopdar, tentang buku Antologi Orange session 1 & 2 yang sayah berikan buatnya dan lainnya.

Isseng-iseng sayah perhatikan tanggal terkirimnya, sampai tanggal keterimanya…8 hari dalam perjalanan..weleeeehh…Aceh jauh yah ternyata.

Ahhhh, sayah pun sedang menunggu surat dari Mbak nita sementara saya membuat balasan untuk Intan. Tiba-tiba suara sumbang datang :” ngapain suart-suratan kalau masih bisa onlen di jaman segini, dan ngapain surat-suratan lhaa wong sesama di Jakarta, bisa ketemu kalau ada waktu.”

Yahhh, sayah sih gak mau menanggapi omongan sumbang itu, cukup sayah timpali, ” Yah, kali aja suatu saat menteri pos dan pariwisata mengangkat gue dan kawan-kawan jadi duta Pos karena mengangkat kembali kegiatan surat – menyurat ” 😀

By the way, tulisannya intan bagus, maksudnya …masih bisa kebaca laah… wkwkwkwkwkw :p *di tapuk*

9 thoughts on “Budaya Surat Menyurat..yuk.

  1. Intan Rasyid says:

    aaaak…. aku malu loh sebenarnya. soalnya suratku kertasnya gak elegan banget. pas udah nyampe di kantor pos baru keinget kenapa juga suratku di tulis di kertas kayak gitu. heheheh, gak pernah sih sebelumnya.

    8 hari perjalanan karena menggunakan perangko, kalau minta pos tercatat sih 3 hari bisa nyampe, tapi kan aku ingin kembali ke masa belasan tahun silam, masa-masa di mana aku bahkan gak pernah bertulis surat 🙂

    Like

  2. whysooserious says:

    terakhir surat-suratan itu pas SMA, sama teman SMP saya yang padahal masih tinggal sekota tapi udah jarang ketemu. Belum kenal e-mail sih 😀
    Tapi memang surat2an itu sensasinya beda, apalagi kalau ditulis di kertas surat yang unyu2 lucu. hahaha…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s