Saat salju turun


XMAS
Salju sudah mulai turun. Aku berjalan pelan menyusuri taman kota yang semuanya sudah memutih tertutup gumpalan es yang lumayan lebat di tahun ini. Mantel merahku ku dekap rapat-rapat agar dinginnya tidak menembus ke dalam kulitku. Ini natal yang menyiksa.

Aku hendak meraih ponselku dari dalam tas. Tapi kuurungkan niatku.

Percuma. Pesan singkat yang selalu kutunggu itu tidak akan ada.

Ini hari kedua puluh empat, sejak Jamie tak juga terdengar kabarnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, aku juga merasa kami tidk sedang bertengkar belakangan ini. Yang aku tahu ia menghilang, pesanku di semua media tidak juga di balasnya, teleponku tidak juga di jawabnya. Ia benar-benar menghilang dari muka bumi.

Jamie marah padanya ? untuk apa ? karena hal apa ?

Ini desember ketiga dan aku selalu ketakutan saat melewati bulan ini. Dua hubunganku sebelumnya berakhir di bulan yang sama dengan tahun yang berbeda. Laki-laki yang picik. Lantas jika aku merasa trauma dengan bulan Desember rasanya itu tidaklah terlalu berlebihan.

Ini desember ketiga dan Jamie menghilang tanpa kabar. Aku semakin ketakutan, inikah cara laki-laki untuk mengkahiri sebuah hubungan ? menghilang diam-diam lantas melupakan apa yang telah terjadi.

Manhattan sudah larut sekarang. Aku masih saja menyusuri jalanan kota ini sambil sesekali melirik ke dalam jendela di beberapa flat yang kulewati. Flat yang terang dan semakin terang dengan pohon natal di setiap rumah mereka.

Aku tidak berniat menaruh pohon natal di flatku. Aku juga tidak berniat merayakan natal dalam keriuhan, aku hanya ingin pulang. Ke tanah ibuku.

Ponselku bergetar. Aku terkesiap dan segera meraih ponsel dari saku mantel. Di layarnya muncul sebuah nama yang menghubunginya : Mrs. Grace.

“Kau akan kesini malam ini ?” tanya suara wanita berusia senja dari seberang sana.

“Ya akan aku usahakan.”

“Terima kasih, Anak-anak ini menunggumu sayang.”

Klik. Suara telepon terputus dan aku memasukkan lagi ponselku ke dalam saku. Aku menarik nafas, udara dingin masuk kedalam rongga hidungku. Aku tidak tahu Jamie dimana sekarang dan entah apa yang sedang di lakukannya tapi aku juga tidak mau terus-menerus memikirkannya.

Malam ini akan lebih baik jika aku sampai di flatku lantas kembali ke panti dengan hadiah natal untuk anak-anak itu. Aku mungkin di abaikan oleh Jamie, tapi aku tidak mungkin di abaikan oleh kehangatan dan senyum dari anak-anak panti itu.

Begini rasanya diabaikan. Seperti udara dingin yang menembus ke kulitmu. Beku dan menusuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s