Tertampar saat nyekar


Tertampar…itu arti harafiahnya apa yah..melayangkan telapak tangan di pipi ? sering kau lakukan bila kau marah….*lhaaaaa…kenapa jadi nia daniaty?!*

Hmmm..iya nih baru-baru ini saya berasa tertampar deh. Bukaaaan…bukan KDRT kok. Sungguh. >,<

Jadi ceritanya, sabtu kemarin itu sehabis pulang shift malam sayah menyempatkan diri untuk nyekar ke makam bapak. Gak tau yah, rasanya kepengen mengunjungi aja.

Nyekar itu jadi sesuatu yang ‘harus’ sayah lakukan ketika sayah merasa gundah gak jelas, atau bermimpi bertemu bapak. Yah walaupun sudah berbeda dunia tetap kan kita harus senantiasa menjaga dan menghormati orang yang sudah lebih dulu pulang.
Sayah ingat ucapan pak ustad yang nggantenge koyo arjuno.. #halaaah… bahwa “ketika manusia mati yang dapat membantunya kelak ada tiga perkara : ilmu yang bermanfaat, amal jariyahnya dan doa anak yang saleh” —-maaf kalo salah–

Yah, mudah-mudahan sih doa yang sayah kirimkan bisa meringankan beban bapak di alam sana.

Lhaaa..ceritanya terus gimana ?

Iyup. Jadi sehabis saya masuk gapura makan, sayah celingak-celingukan sendiri. Seingat sayah sih letaknya gak jauh dari pohon kemboja di pinggir jalan.

Ada dua kali deh saya muterin dua baris sambil mengamati nisan-nisa dan mencari nama bapak saya –ternyata sayah lupa, kalau nisannya sekarang gak sendirian tetapi di gabung berdua dengan isteri pertamanya–

Lagi nyari-nyari nyeletuklah seorang pembersih makam, “Udah lama gak kesini yah, makanya di rawat, di kunjungin.”

Glek. Makjleb.

Waduuuhhhh. Nyinyir yang sangat ngena. Iya sih, kalau di pikir-pikir sayah berkunjung terakhir waktu lebaran, padahal sebelumnya sayah sempat beberapa kali kesini. Duuuhhh, malunya.

Sampai akhirnya ketemulah sayah dengan nisan bapak –yang sudah digabung itu– setelah di bantu oleh penjaga makam yang kebetulan tetanggaan dengan keluarga bapak di Matraman. Sayah pun berjongkok, mengeluarkan yasin dan menaburkan bunga. Lantas mengaji disitu.

Sempat membatin meminta maaf karena jarang berkunjung, walaupun insya allah tak berhenti doa sayah untuk beliau di dalam salat. Tetapi bagaimanapun hal ini jadi membuat saya tertampar sendiri, mengingatkan diri sendiri bahwa meski jasad sudah tak ada di dunia tetapi ada silaturahmi yang harus tetap ada.

Apalagi itu orang tua sendiri.

2 thoughts on “Tertampar saat nyekar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s