Ladies time


Siapa yang suka ke salon ?

Banyaaaaaaakkkkkkk. Perempuan pastinya hobi banget ke salon yah. Saya juga donk.

Begini, saya sih gak ngerasa kalo ke salon itu akan berubah jadi cantik yah. Masuk salon biasa aja pas keluar langsung jadi Angelina jolie misalnya…tring…tring….!
Saya termasuk cewek dengan fisik jauh dari cantik, manis ala artis artis sinetron kita yah, saya juga ke salon buka permak wajah, tapi sekedar lulur-lulur cantik biar badannya bersih, terawat dan biasanya kan simbak kapsternya itu di pijet dulu. Nah itu biar badannya jadi enteng, karena pas kita pijet refleksi kan biasanya urat-urat melintir di betis, di tangan, di pundak jadi lurus lagi gak pegel lagi, apalagi saya yang kerjaannya kayak kuli pasar pijet refleksi itu kudu banget deh.

Nah saya juga termasuk pilih-pilih dong kalo nyari salon buat lulur, yah secara gitu yah kita kan agak ‘terbuka’ gak mungkin milih salon yang nyampur lelaki & perempuan. Saya lebih sreg memilih salon wanita atau salon muslimah.
Pemilihan tempat juga jadi patokan loh, salon yang asyik itu yang tenang, wangi aromatheraphy terus pake lagu-lagu pelan..dduuhh…rileks banget deh. Jadi pengen tidur…halaaahhh..

Tapi sayah aja nemu pengalaman yang ehemmm..sedikit berbeda –menurut saya– Jadi ceritanya salon khusus wanita langganan sayah itu resmi tutup maka jadilah sayah pergi ke salon khusus wanita yang sedikit jauh dari rumah sayah. Sayah pikir salon yang sayah kunjungi sama dengan salon-salon wanita pada umumnya lah ya, semodel sama Rumah cantik citra gitu deh — RCC masih jd salon nomer wahid buat saya–
Pas sayah masuk…ehemmmm..mulailah terasa berbedanya. Mungkin karena ingin mengindentikan dengan “khusus wanita muslimah” begitu sayah masuk sudah terdengar ceramah dari speaker yang berisi tentang ‘kewajiban wanita menurut syariah islam’.
Okey. Awalnya saya pikir sih ini memang salon yang berbeda, ternyata cerita punya cerita dengan simbak kapster, ini salon beneran ketat aturannya, salah satunya wanita non muslim tidak di perbolehkan masuk, dan segala kegiatan yang diperkiran mengandung bid’ah di tiadakan.

Okey.

Sayah sih mafhum mungkin pemiliknya ini berbeda dan ingin menyajikan sesuatu yang islami. Sambil luluran gitu sayah malah berpikir ngelantur, kalau konsep salonnya seperti itu pastilah perlu usaha yang ekstra yah soal strategi marketingnya. Kok saya membayangkan sayah berada di situ dengan wanita-wanita bergamis sementara sayah sendiri tidak mengenakan kerudung.

Ya sudahlah,,memilih salon itu pilihan sih tergantung fasilitas dan harga juga,

Karena sebuah pilihan, makanya lanjut atau tidak lanjut menjadi konsumen salon itu yah menjadi pilihan masing-masing.

Jadi,,kalau kamunya gimana ?

6 thoughts on “Ladies time

  1. Ei says:

    udah pernah coba rengganis salon? lumayan banyak cabangnya di bogor … so far, ei sih puas banget sama layanannya.

    btw, ei bogornya di sekitaran taman cimanggu, dirimu dimana?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s