Behind the scene (Lomba Menulis Fanfic Rhein Fathia)


Aku mengetuk-ngetukan puplen merahku ke atas meja, mencari lagi angka penjualan yang sama sekali tidak cocok dengan laporan dari staf lapangan. Lembar halaman di hadapanku ini sudah kubolak-balik, ku tatap lekat-lekat bahkan ku otak-atik angka di dalamnya tetap saja nihil. Angka itu tetap misterius, entah berasal dari mana.

Aku mengedarkan pandangan, hampir separuh penghuni kantor ini sudah pulang ke rumah masing-masing, hanya ada aku, Liana di meja marketing, Desmond di bilik HRD dan Shen di ruangan tertutup dari kaca tekun dengan gambar di mejanya.

Shen. Ah ya. Lelaki itu, sudah lama sekali aku tidak menjahilinya, tidak bergosip dengannya bahkan kami sudah lama tidak mengobrol ringan sekedar mengomentari kebijakan baru HRD yang merusak kesenangan karyawan.

Sejak pulang dari Bali entah kenapa aku melihat perubahan aneh di dalam dirinya. Seperti sesuatu terjadi pada dirinya padahal sebelum berangkat jelas-jelas ia kelihatan bahagai dan bersemangat karena akan melakukan petualangan di pulau dewata bersama karibnya yang bernama Nilam itu.

Ah, aku terlalu perhatian padanya mungkin. Jelas Shen tak pernah melihatku sebagai seorang perempuan khusus kecuali sebagai sahabat akrabnya di kantor. Penghuni kantor ini tahu betul keakraban kami berdua dan terang-terangan menjodohkan aku dengan Shen, tapi Shen selalu menampik dengan gurauan yang membuatku mengerti penolakannya yang tidak tersirat itu. Tapi setelah kejadian itu, aku tetap menganggapnya lelaki istimewa dan memperlakukannya dengan istimewa, entah ia menyadari atau tidak.

“Sibuk ?” Aku melongokkan kepala ke balik pintu. Shen menoleh.
“Nggak. Sini masuk,”

“Kok belum pulang ? kerjaan masih banyak?”

Shen tertawa kecil,” kerjaan sih udah selesai dari tadi, lagi pusing aja.”

“Ckckckckc…bulan depan kamu promosi jabatan lho, jangan magabut dong, pulang sana kalau gak ada kerjaan.”

“Sialan. Puyeng tau , urusan cewek kok jadi rumet gini sih.”

“Hmmm…kayaknya aku tahu, siapa cewek ini,” kataku menyelidik. Sebenarnya aku sedikit takut kalau-kalau tebakanku tentang gadis yang di risaukan Shen ini adalah Nilam.

“Oke. Oke. Apa sih yang kamu gak tahu tentang aku, kapan aku jadwal ganti oli mobil aja kamu hafal. Seratus nona Anne, tebakanmu benar,” Shen tertawa kecil salah tingkah karena ketahuan olehku, ia menggulung kertas notes di dekatnya lalu di lemparkannya ke arahku. Aku tertawa menghindari.

“Jadi benar kan ini soal Nilam ? kenapa lagi sih, kemaren di Bali gak jadi nembak ?” aku blak-blakan mengutarakan pertanyaanku.

Aku merasa gemas dengan makhluk di depanku ini, begitu lambatnya mengutarakan perasaan pada sahabatnya sendiri. Pantas saja daftar pacarnya sedikit. Padahal sebelum berangkat ke Bali kemarin, ia sudah menghafal teks segala kalimat-kalimat untuk menyatakan cintanya terhadap Nilam dan aku sudah seperti Sayuti Melik yang menulis teks proklamasi, sementara saat itu yang kutulis adalah pernyataan cinta Shen terhadap Nilam.

“Kamu tuh gak ngerasain apa yang aku rasain sih Ne, aku sayang setengah mati sama Nilam, aku berusaha mengekpresikan apa yang aku rasain ke dia, rasa sayang aku buat dia tapi Nilam tuh gak pernah menyadari hal itu, dia seolah bikin tembok tinggi dengan atas nama kakak-adik.”

“Hmm…mungkin kamu kurang jelas nyatainnya, kadang ada cewek yang belum yakin kalau belum denger pernyataan would you be my girl, langsung dari mulut si cowok,” aku mencoret-coret notes kecil milik Shen dengan pulpen merahku, menggambar bunga-bunga kecil.

“Kurang jelas gimana aku sampai ci…….”

Shen menghentikan kalimatnya.

Aku mendelik, tanganku berhenti mencoret notes milik Shen.

Shen membetulkan posisi duduknya. Aku melirik menahan tawa.

Shen salah tingkah.

“Oke. Aku cium dia di pantai, itu gak sengaja, itu kebawa suasana aja.”

Aku tak mampu menahan tawa. Tawaku berderai memenuhi ruangan yang kedap suara itu, tawaku terlalu kencang hingga membuat bahuku bergerak mengikuti irama. Disinilah kepolosan Shen yang aku suka, kepolosan lelaki yang ketahuan dan tak bisa mengelak.

Aku menurunkan volume suaraku dan kembali focus pada masalah Shen, “ Jadi menurut mu gimana?”

“Sepertinya Nilam terlalu mencintai Reza hingga tak menyadari perasaanku, mungkin aku yang harus mundur, aku harus ke Bali lagi.”
“Ke Bali lagi ? untuk apa ?”

Shen menarik nafas berat, “Aku memulai perasaanku disana dan juga mengakhirinya di tempat yang sama, aku harus menghapus jejak-jejak dimana kaki kami berdua pernah melangkah.”

Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Sudah pukul tujuh malam, Viona sudah menungguku di bawah untuk pulang bersama. Aku mengangkat bahu dan menyentuh pergelangan tangannya. Aku tahu bicara denganku sore ini mungkin tak terlalu banyak membantunya.

“Lakukan apa yang menurut kamu terbaik Shen, aku selalu dukung, kamu bisa andalkan aku untuk bantuan apapun,” aku bangkit dari tempat dudukku setelah Shen mengangguk. Belum berapa jauh aku melangkah menuju pintu kaca. Shen memanggilku.

“Anne…”

Aku menoleh.

“Menurut kamu negara eropa mana yang membuatmu terkesan?”

Aku tersenyum . Entah apa maksud dari pertanyaan Shen kali ini, tapi untuk mempercepat waktu aku menjawab satu-satunya negeri di eropa yang sangat cantik menurutku, yang dalam imajinasiku penuh dengan keromantisan muda-mudi dan membayangkan kami berdua duduk di taman kota sambil bersenda gurau.

“Belanda.”

pose dua Dara cantik :)

pose dua Dara cantik 🙂

One thought on “Behind the scene (Lomba Menulis Fanfic Rhein Fathia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s