end of journey


“Kita harus punya paspor Dit,” kata Ardan suatu ketika di sela makan siang kami.

“Untuk apa ?”

“Untuk keliling dunia pastinya,” kata lelaki itu bersemangat dengan mulut penuh dengan es campur.

“Ahhh, aku gak tertarik,” kataku sambil tertawa. Sejak dua minggu lalu lelaki itu terus berceloteh tentang keinginannya keliling dunia. Sambil mendengarkan ocehannya aku hanya tersenyum dan sudah bisa menebak keinginannya pasti terpenuhi.

Ardan memang lelaki yang tak pernah putus asa dalam segala hal, apapun yang diinginkan pasti tercapai meski ia harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Begitu pula halnya dalam urusan asmara, Ardan memang tak pernah putus asa mengincar wanita-wanita cantik, gagal satu masih ada ratusan yang di incar

Sepertinya aku yang putus asa menunggu cintanya.

globe

“Tebak aku punya apa ?” kataku tiba-tiba menghampiri kubikelnya.

“Entah novel baru, ponsel baru, pacar baru ?” katanya dengan mata yang tak lepas dari layar laptopnya.

Aku cemberut, “lalu kamu senang kalau aku punya pacar baru. Ok. Deal.”

Ardan lagi-lagi tertawa terbahak-bahak.

Aku mengeluarkan tanganku yang kusembunyikan di balik punggung lalu kutunjukkan sebuah buku kecil berwarna hijau di depan wajahnya.

“Paspor baruuuuuu.”

Wajah Ardan seketika sumringah. Ia memutar kursinya hingga berbalik ke arahku.

“Ah, akhirnya. Kukira kamu gak mau ikut rencanaku,” kata Ardan dengan wajah penuh bahagia.

“Sebenarnya aku takut keluar negeri sendirian, tapi selama ada kamu apa yang perlu aku takutkan ?”

“Hahahaha, thank you dear.”

Ardan mengambil sebuah bola dunia ukuran kecil dari rak di dekatnya, lalu di letakkan di atas meja. Aku mengerenyitkan dahi.

“Dita, kita bikin target yuk. Paspor berlaku selama lima tahun, dalam kurun waktu tersebut tunjuk lima negara mana saja yang ingin kamu kunjungi .”

Aku tertawa kecil. Menertawakan idenya yang selalu tampak konyol, tapi bukankah itu yang aku suka dari seorang Ardan Aditama. Kekonyolannya.

friends

Lima panggilan tak terjawab muncul di layar ponselku ketika aku meninggalkannya di laci meja untuk meeting divisi. Dari Ardan. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk juga dari lelaki itu.

Maaf Dit, minggu depan kita gak jadi ke Thailand, aku harus ikut Training di Sidney selama sebulan.

Aku diam. Ardan menggagalkan rencana yang sudah matang. Bukan hal yang aneh.

figura

Figura kaca di mejaku terjatuh untuk kesekian kalinya. Figura mungil berisi fotoku bersama Ardan ketika di Jogja itu sudah beberapa kali terjatuh dan mengganggu konsentrasiku mengerjakan laporan penjualan.

Aku memperbaiki posisi figura tersebut sambil memperhatikan dengan seksama, mungkin ada bagian yang patah atau membuatnya tidak dapat berdiri dengan seimbang. Nihil. Tiap sisi dari figura itu masih utuh.

“Mungkin sebuah pertanda Dit,” kata Amel ketika aku mengeluh tentang fgura tersebut.

Aku menekan steak dengan garpuku dengan kesal, “Aku tidak pernah percaya begituan Mel..”

backpack

Rasa dingin menyergapku dan membuatku merapatkan mantel yang sudah demikian tebal. Aku menarik nafas, mengedarkan pandangan sekeliling bandara yang megah di hadapanku ini. Amsterdam sedang musim dingin, kata Willem dalam emailnya kemarin.

Aku memejamkan mata dan berusaha fokus.Hal yang biasa aku lakukan begitu aku tiba di negeri baru.

“Apa kabar Ardan. Ini negeri kelima seperti rencana kita. Seharusnya aku berada disini bersamamu, menuntaskan rencana perjalanan kita sebelum paspor kita habis. Kamu tahu aku takut pergi sendirian tapi kamu selalu bilang aku pemberani. Sekarang aku berhasil sampai disini sendirian dan Aku ingin kamu disini Ardan.”

Aku tersenyum usai menyapa Ardan. Ia memang tidak berada disisiku tapi aku yakin kemanapun kakiku melangkah jiwanya selalu berada di sekitarku. Ardan sahabatku yang membuatku memberanikan diri untuk melangkah mejelajahi lima negara seperti rencana kami semula.

“Selamat datang di Amsterdam,” suara renyah Willem sahabatku tiga tahun belakangan ini mengejutkanku. Tubuhnya tinggi menjulang dan berkulit sedikit cokelat dari ibunya yang orang semarang.

Satu hal, Willem dan Ardan memiliki senyum yang mirip satu sama lain.

rose

Aku menggerutu melihat angka-angka penjualan yang sama sekali berbeda dengan angka yang kuhasilkan dari kalkulator di tanganku. Kopiku sudah habis setengah cangkir dan kejanggalan di atas kertas itu belum juga kutemukan.

‘Dit…” Amel mengejutkanku.

“Kenapa ?” tanyaku tetap fokus sambil mencoreti angka di kertas penjualan dengan ballpoint merah.

“Ardan Dit…kecelakaan di Melbourne.”

Balllpoint merah itu terjatuh dari jariku. Sedikit tintanya yang bocor melumuri angka-angka yang kini makin tak kelihatan.

Ada rasa sesak di dalam dadaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s