3500 Kaki


plane

Ada warna-warni lain dalam perjalanan gue kemarin, sementara menghadapi ketidaknyaman di dalam pesawat dan teman seperjalanan Andry memilih tidur gue pun membuka novel yang sengaja bawa sebagai teman.

Nihil. Berada di ketinggian 3500 kaki membuat gue gak nyaman, makan permen seperti sarannya tuting juga sudah dilakukan, baca novel yang isinya cinta-cintaan juga gak ngerubah efek apa-apa. Gue melirik penumpang sebelah. Aki-aki uzur yang waktu di lounge sebelumnya gue gosipin sama lesty, “kasian nih si abah, kenapa keliaran sendirian di erpot” πŸ˜›

..Gak taunya malah jadi penumpang sebelah πŸ˜›

Mulanya sederhana, gue tanya, “mau kemana pak ?”

“Ke singepor,”

*Ya eyalah Nyeu, lo lagi gak naek pesawat ke Surabaya kan?!*

Kemudian gue ditanya, “adek darimana ?”

gue jawab, “Jakarta”

* Nah loh! seisi pesawat juga tau kalo lo dan semua penumpang disitu berasal dari erpot jakarta kan Nyeu*

Gak lama kemudian, si aki ini pun bercerita dengan logat melayu yang kental kalau dia baru saja membeli hewan untuk kurban di Indonesia karena harga hewan kurban di Singepor amatlah mahal, lalu beliau pun bercerita tentang anaknya yang bekerja di maskapai penerbangan singapur dan karena mendapat jatah terbang beliau menyempatkan diri untuk berhaji sebanyak dua kali.

Gue melongo. Naik haji dua kali. Ckckckckckc. Hebat.

Obrolan kami terputus ketika pramugari memberikan Kartu kedatangan untuk di isi, gue pun mengeluarkan alat tulis dan paspor sambil ngisi kartu gue ngelirik beliau yang diem aja, gue pikir beliau nungguin gue selesai pakai pulpen makanya langsung gue kasih pulpen gue.
Ternyata beliau malah menyodorkan kartunya, “Tolong adek isi yah” sambil memberikan kartu dan pasportnya ke gue.

Giliran gue yang melongo, yah atas nama bersikap sopan dan tau adat akhirnya gue terima pasportnya lalu gue isiin deh.

Ternyata hasil stalking paspor beliau ternyata si aki nih kelahiran Indonesia. Setelah gue kembaliin paspor dan kartunya beliau cerita bahwa beliau sudah berumur sembilan puluh tahun dan sudah tujuh puluh tahun tinggal di Singapura.

“Semestinya bapak di panggil antuk (kakek) bukannye bapak” lalu beliau tertawa.

Gue tertawa juga lantas teringat Antuk Dalang πŸ˜€

Ketika turun pesawat si aki merapikan dompetnya yang lusuh dan memberikan beberapa lembar pecahan dua ribuan ke gue. Gue menolak dengan halus tapi tetep di paksa untuk terima.

Sekali lagi gue melongo. Life πŸ™‚

5 thoughts on “3500 Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s