Demo buru (lagi)


Jam empat pagi sayah sudah keluar rumah. Bukaaaaan. Bukan mau mencuri dan pulang bareng maling. Itu terpaksa, padahal biasanya sayah baru keluar rumah jam lima pagi.

Iya. Jam masuk kerja di majukan satu jam lebih awal untuk menghindari adanya demo buruh.

Ouugh. Ini menyebalkan bukan ?

buruh

Rasa-rasanya sih di tahun ini sudah beberapa kali terjadi demo buruh. Oke. Sayah buruh juga. Serius. Kerja di pabrik berdebu dan kepanasan juga.
Di jam sebelas kebetulah 2nd plant yang sayah tempati terkena sweeping, sayah melihat para pendemo itu di depan mata, dengan arak-arakan motor sambil membawa bendera besar lalu berteriak agar kami menghentikan kegiatan produksi.

Oke. Teman-teman lelaki akhirnya di perintahkan untuk keluar dan mengikuti sampai depan halaman saja karena perintah dari Head Office, kami dilarang ikut pawai. Sementara pegawai perempuan yang jumlahnya tak lebih dari lima jari berdiam di locker karyawati.

Oke. Demo. Pawai. Selesai ?

Sambil menunggu sayah pun mengikuti berita dari portal media. Miris yah demo yang berlangsung beberapa jam, dan baru beberapa menit melewati tempat sayah bekerja sudah memakan korban penusukan. Dari portal media tersebut pun sayah membaca bahwa masyarakat sekitar sebenarnya sudah bosan dan muak dengan demo yang hampir setiap tahun terjadi karena berimbas mematikan sumber nafkah.

Sedikit sayah mengintip keluar dan menemukan pria-pria berbadan kekar yang ikut berada di dalam gerombolan itu. Ugghh. Mungkin berasal dari preman sekitar atau ormas. šŸ˜¦

Belum puas membaca di portal media sayah mendapati timeline twitter sayah yang penuh dengan cacian, makian karena terkena efek demo yang anarkis, seperti blokir jalan tol hingga menimbulkan macet yang luar biasa. Belum lagi cacian karena para buruh dianggap tidak dapat bersyukur dengan hasil yang ada, dibandingkan dengan pendapatan para orang-orang bergelar akademis maupun profesional.

Sampai akhirnya muncul komentar, “cuma lulusan SMA minta tiga juta, kami yang lulusan sarjana saja cuma terima dua juta. Jadi merasa percuma sekolah tinggi.”
Belum lagi tuntutan yang diminta cenderung konsumtif

See ?

Di suatu daerah berteriak lantang minta kenaikan gaji yang hampir setiap tahun, di tempat yang lain ada yang menerima di gaji yang gak sesuai dengan gelar yang bertengger di belakang namanya, di belahan Indonesia yang lain bahkan ada yang harus bersusah payah dulu demi mendapatkan seribu rupiah.

Sayah juga buruh dan bersimpati dengan teman-teman yang berjuang lapangan tapi kan bisa di bicarakan di belakang meja yah, dengan kepala dingin dan sedikit banyaknya (menurut sayah sih) mereka juga perlu tahu pengaruh kenaikan gaji, cash flow perusahaan, nilai dollar yang gak stabil yang berdampak terhadap produksi, pembelian material, harga jual produk yang terpaksa di naikkan, hingga efek di tinggalkan consumer jika harga produk tak lagi kompetitif.

Jangan sampai loh, beberapa perusahaan besar memilih hengkang dan mencari negara yang upah buruhnya masuk akal tapi menghasilkan produk yang berlimpah.

Belajarlah dari kasus Nike.

2 thoughts on “Demo buru (lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s