Genggam


30dayB

“Hidup itu lucu,” kataku dengan tertawa tertahan.
“Lucu. Maksudmu ?” Ery bertanya dengan raut wajah bingung.

Aku menarik nafas. Kami sudah hampir satu jam duduk di taman kota ini tapi tak ada satupun pembicaraan yang berhasil menarik emosi kami masing-masing. Padahal ini adalah pertemuan pertama setelah sebelas tahun Ery dan aku tidak berjumpa.

Dua minggu lalu, Ery menghubungiku via email tentang kepulangannya ke Indonesia. Kalau boleh jujur, aku terkejut, senang dan gelisah campur jadi satu.
Ery. Lelaki yang berhasil membuatku terhipnotis selama sepuluh tahun ini menghubungiku!Lelaki yang menghantui setiap relung pikiranku, meski ada Sakti di sampingku.
Ery, cinta yang pernah terlepas, terbang, dan mampir kembali.

“Iya Lucu. Sebelas tahun lalu, selepas SMA aku pernah berjanji tak mau bertemu denganmu setidaknya sampai sepuluh tahun, sebagai konsekuensi atas sakit hati. Aku tak percaya janji remeh seorang remaja ternyata di dengar Tuhan. Dan disinilah kita sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu..”

Aku terdiam sejenak tak mampu meneruskan kalimat yang belum selesai itu.

“Dan sepuluh tahun berjalan aku tersiksa dengan janjiku sendiri,” aku terisak dan merasakan bulir bening jatuh di sudut mataku,

Ery terdiam. Kepalanya menunduk. Aku memperhatikan diam-diam. Fisiknya sekarang tidak setangguh dulu. Perutnya sudah membuncit, rambutnya menipis, aku merasa sedang berbicara dengan om-om berusia 29 tahun bukan dengan Ery si jago basket. Namun ia masih tampan dengan mata bundarnya. Sampai saat ini, ternyata.

“Mungkin itu sebabnya aku tak pernah berhasil menghubungimu selama ini,”

Ery meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Sorot matanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri juga diriku. Ia menggenggam seolah tak mau lepas.

“Tiar. Aku mohon, menikahlah denganku,” pintanya memelas.

Aku melepas genggamannya dengan segera. Ini keterlaluan. Ini tidak mungkin. Walau aku menunggu hal ini sejak lama, mengharapkan hal ini di tiap mimpiku. Tetap ini tidak mungkin.

Aku menyembunyikan tanganku yang sebelah lagi. Cincin itu mungkin tidak berkata apa-apa, tapi benda bisu itu menyaksikan apa yang terjadi hari ini.

Cincin simbol pernikahanku dengan Sakti.

* * *

Tulisan untuk mendukung #30HariNgeblog kak child_smurf

2 thoughts on “Genggam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s