#31HariFF : Diselamatkan Azan


candle

Aku melangkah keluar dari bilik bambu mak Ijah. Secarik kain putih dalam genggamam pemberian dari Mak Ijah tadi. Aku juga masih berupaya mengingat-ingat pesan wanita renta itu, Jangan sampai lilinya terbakar habis.

Ah, kalau saja bukan karena Iroh yang boros dan senang belanja yang tidak perlu, kalau saja bukan karena hutang pada Kang Karta yang semakin menumpuk, kalau saja musim panen kali ini tidak gagal. Ini pasti tidak terjadi.

Iroh. Iroh, Duh Gusti, perempuan macam apa yang kukawini dengan sepetak sawah setahun lalu itu. Berhutang sana-sini untuk membeli emas di badannya dan aku yang terkena imbasnya.

*********************************************************

Pukul satu pagi.

Semuanya sudah siap. Iroh juga sudah siap. Aku duduk bersila. Tapi aku tidak yakin mau melakukan hal ini atau tidak, sementara Iroh yang terlihat dimatanya hanya emas, emas, dan emas.

“Kang, segera di laksanakan supaya hutang kita terbayar.” kata Iroh.

Aku diam. Gusti, ie teh naoh.

“Kang, eh si akang teh malah bengong, buru atuh.”

Aku tidak tahu betapa waktu berjalan teramat cepat. Ketika aku sadar dari lamunanku, aku melihat Iroh yang nampak kesal. Aku bersiap lagi.

Baru saja aku hendak memulai membaca mantra.

Azan subuh terdengar. Aku menarik nafas lega.

Ritual malam ini gagal.

One thought on “#31HariFF : Diselamatkan Azan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s