Pemuda masa kini


Dalam dunia, kerja habis kontrak atau selesai masa kontrak bukan hal baru deh yah. Iya. Karena satu dan lain hal sebuah perusahaan memang biasanya menerapkan kuota untuk mengangkat seseorang menjadi seorang karyawan permanen. satu banding seratus. :-/

Sementara untuk karyawan permanen yang mengalami gonta-ganti rekan kerja (karena habis kontrak) pun rasanya bukan hal aneh. Sayah misalnya. Satu dekade bekerja di perusahaan yang sama, telah bertemu dengan banyak teman kerja yang berbeda-beda.

Tapi kali ini ada yang bikin sayah geli. Yup, diakhir juni ini akan ada beberapa teman yang akan selesai masa kontraknya. Iseng-iseng sayah bertanya pada mereka, tentang apa yang akan di lakukan setelah keluar dari sini. Rata-rata yeman yang kebanyakan berasal dari daerah itu menjawab, “nyari lagi mbak, di perusahaan deket sini.”
Tapi ada satu yang beda, sebut saja namanya Bejo ๐Ÿ˜›

Sayah : lo abis dari sini mau ngapain rencananya ?
Bejo : saya pulang kampung dulu mba, abis itu baru kesini lagi nyari kerja
Sayah : Oh. Terus..
Bejo : Ya kalau disini gak dapet-dapet kerja, saya mau di kampung aja, nggarap sawah
(Kemudian dia bercerita tentang sawah garapan orang tuanya dikampung, tentang sisa pesangon yang di terimanya buat beli tanah di kampung dll )

Sayah senyum saja sambil melanjutkan kerja kembali. Well, sementara beberapa pemuda dari kampung meninggalkan desanya untuk mengubah nasib di kota (lalu setelah berhasil sedikit kemudian banyak lagak), ehhh ini masih ada pemuda yang masih mau dalam arti gak malu ataupun rendah diri kalau harus kembali ke kampung dan menggarap sawah serta meninggalkan keglamoran hidup anak kota. ๐Ÿ™‚

Sayah terkejut sekaligus haru. Kota besar memang menjanjikan segala fasilitas, kenyamanan sekaligus kehidupan yang keras.Mungkin itu yang membuat banyak pemuda-pemuda bertekad memilih mengadu nasib ke kota untuk memperbaiki kualitas hidup.
Dan tinggallah sawah-sawah hanya di isi oleh orang-orang renta.

Kalau semua pemuda mengadu nasib ke kota, lantas siapa yang kelak menggerakan bajak, menanam padi dan kemudian membuatnya menjadi beras. Makanan pokok orang Indonesia. Untuk membanguna desa membutuhkan tenaga-tenaga muda yang kuat, bukan ?

Ah..sudahlah. Ini hanya cerita belaka. Tak lebih dari sekedar keterkejutan sayah terhadap pilihan hidup seorang pemuda. ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s