Jelajah Baduy


Nyeu Jalan-jalan lagiiiiii..tralala..trililiii… *dancing* 😀

Destinasi kali ini adalah BADUY.

Baiklah, apa yang ada di benak kalian begitu mendengar kata “suku baduy”?
Pastilah otak dan pikiran kalian yang sudah di jejali ilmu dari sekolah itu akan merujuk kepada : Suku asli, banten, alam bebas, primitif, sunda dll.

Betchuuul semua!

Iya. Kali ini nyeu ke Banten lagi dengan duo cewek rempong hasil nemu di Ujung Kulon Diah dan Reni, dan juga mas-mas vegan..uhuuuk! 😛 beserta rombongan dari Indonesia road trip
berjumlah kurleb 45 orang..wow!

Perjalanan di mulai dari stasiun Tanah Abang. No! Kita gak akan bergabung dengan ibu-ibu yang sedang sibuk menawar harga untuk sebuah kain 😀 , jadi di stasiun inilah kita akan melanjutkan perjalanan menuju Rangkas Bitung. Asing dengan daerah itu? sama!

Dengan tiket seharga dua puluh ribu dan lama perjalanan kira-kira 1,5 jam silakan menikmati pemandangan di kiri-kanan kalian. Dari stasiun Rangkas, perjalanan di lanjutkan dengan menumpang sebuah angkutan umum elf yang akan mengantar kita menuju desa ciboleger dengan waktu perjalanan kira-kira 1-2 jam. Jangan lupa siapkan fisik karena perjalanan akan terasa begajulan karena jalanan yang sedikit rusak 😀

Desa ciboleger adalah pintu menuju kampung baduy, disini masih ramah dengan sinyal, alfamart dan juga kehidupan (sedikit lebih) modern. Jangan kaget begitu mendapati beberapa warga baduy asli yang menunggu di kiri kanan jalan. Iya. Mereka biasanya menawarkan diri untuk menjadi penunjuk arah dan juga porter.

Penting : Porter itu sangat penting, sebab kita kan menempuh perjalanan selama 4-5 jam dengan jalan kaki! kecuali lo mau latihan fisik sebelum naik gunung atau masuk tentara, mendingan lo pake porter, karena jalur track yang lo akan lalu akan bikin lo terkejut setengah mati *devilface* 😀 😀

warga baduy juga sebagai porter dan bisa mengantarkanmu ke baduy dalam

warga baduy juga sebagai porter dan bisa mengantarkanmu ke baduy dalam

Mendaki gunung, melewati lembah, tanah merah yang licin, terjal dan kadang berbatu, tanjakan yang gak ada habisnya, turunan yang curam. Itulah kira-kira kondisi jalan kaki kita menuju desa baduy dalam. Lebay? lo akan menarik ucapan lebay barusan setelah mengalaminya 😛

butuh usaha dan perjuangan yang keras untuk bisa melihat indahnya alam baduy ini

butuh usaha dan perjuangan yang keras untuk bisa melihat indahnya alam baduy ini

Warga desa baduy dalam cukup terbiasa dengan kehadiran kami si orang kota yang sok kepengen tau ini. Bayangan kalau mereka kaku, susah di ajak bicara dan menarik diri itu seua bakal sirna. erka ramah dan mau bercerita tentang kehidupan mereka, alasan kenapa begitu teguh menolak peradaban baru, dan kebiasan serta larangan-larangan adat yang harus mereka patuhi. Kita di persilahkan untuk tinggal semalam di rumahnya dan menikmati kehidupan warga baduy yang tanpa listrik, produk kimia, teknologi dll. Semuanya back to nature 🙂

Rumah tradisional suku baduy

Rumah tradisional suku baduy

Maksud gue back to nature artinya total termasuk urusan toilet 😀 yup! karena di baduy dalam gak ada kamar mandi, seua urusan mengenai pembuangan dan pembersihan di lakukan di sungai 😛

Satu setengah hari berada di dalam desa Baduy, banyak hal bisa kita petik loh. Kesederhanan, kepatuhan, dan penghargaan mereka terhadap alam yang harus kita akui jempol. Teknologi mungkin menggempur anak-anak muda sekarang dengan hal yang serba instan, tapi mereka tetap teguh memegang adat mereka sendiri dan gak merasa rendah diri. 🙂

pic taken & editing by mas-mas vegan..keren yah ^^

pic taken & editing by mas-mas vegan..keren yah ^^

Fisik mereka gue cukup takjub. Bayangin deh, mereka bisa membawa dua sampai tiga ransel segede gaban dengan isi yang mungkin lebih berat dari barbel dan jalan kaki sejauh puluhan kilometer. Kita yang cuma bawa badan aja bisa nafas pun udah megap-megap 😦
gak yang tua gak yang muda, anak kecil pun demikian.

Duh! Nyeuuu! selama ini cuma sanggup keliling emol doang 😛

Dan pada akhirnya, trip ke Baduy berakhir dengan semua pengalaman yang gak ada habisnya untuk di ceritain. Pisahlah kami di desa ciboleger.

pengrajin tenun menjadi sektor penggerak ekonomi suku baduy

pengrajin tenun menjadi sektor penggerak ekonomi suku baduy

Danau di atas bukit ini katanya gak pernah kering sudah ratusan tahun

Danau di atas bukit ini katanya gak pernah kering sudah ratusan tahun

anak-anak baduy menyimak hasil jepretan

anak-anak baduy menyimak hasil jepretan

Yang menarik saat kami salaman perpisahan, salah satu dari mereka bilang,” jangan kapok ya kesini lagi.”
Gue dan teman-teman ketawa kecil dan bergumam, “Kapok sih gak, tapi untuk balik lagi mungkin bakal mikir-mikir dulu”

Terima kasih warga baduy, semoga tetap teguh menjaga alam dan gak terkontaminasi dengan racun kota 🙂

One thought on “Jelajah Baduy

  1. renee says:

    ember kapok seh nga yaaa…cuma mikir tujuh kali buat balik ,13 bukit bo kita daki tapi nga nyesel kog kesana banyak pelajaran hidup kita dapat disana. Alam takambang jadi guru kata pepatah patang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s