#31HariFF : Diselamatkan Azan


candle

Aku melangkah keluar dari bilik bambu mak Ijah. Secarik kain putih dalam genggamam pemberian dari Mak Ijah tadi. Aku juga masih berupaya mengingat-ingat pesan wanita renta itu, Jangan sampai lilinya terbakar habis.
Continue reading

Advertisements

Rigel


images7

Aku mengikuti langkah Etna, perempuan berusia ribuan tahun yang menjaga Belati Elbrus. Aku sudah mendengar legenda tentang Andes dan aconcagua, hal itu membuatku penasaran akan kejamnya belati milik Elbrus yang mampu mengoyak – ngoyakkan sayap mereka. Dunia manusia membuat mereka berubah, begitu kata Elil salah satu penjaga pilar dunia.
Continue reading

#31HariFF : Kupu-kupu terbang rendah


kupu

Aku tidak tahu kenapa belakangan ini selalu melihat kupu-kupu yang sama terbang tidak jauh dariku. Kupu-kupu yang sama dengan sayap lebar, berwarna kuning emas dan sebuah lingkaran berwarna biru sebagai. Cantik sekali. Kupu-kupu itu tidak banyak tingkah, hanya saja sering terdiam tidak jauh dariku bahkan sering berlama-lama di bahuku.

“Tidak mengapa, ia kupu-kupu yang cantik,” kata Lodin ketika aku mengemukakan hal ini padanya.

“Ya tapi aku merasa aneh,” kataku.

“Ah, jangan kau pikirkan Amigel buang-buang waktu saja.”

“Baiklah, aku harus bersiap memilih gaun terbaik untuk pesta dansa besok malam,”

********************************************************

Siapa yang tak pernah merasa beruntung di undang ke acara pesta dansa di chateau milik Lodin Duke of Ernstville. Semua putri menyukainya terlebih aku. Gaun satin berwarna ungu muda kupilih untuk pesta nanti malam. Aku mematut diri di depan cermin.

Ah, kupu-kupu itu lagi. Memandangku dari balik jendela.

********************************************************

Jangan Amigel, kumohon jangan datang ke chateau Lodin. Ia akan membunuhmu di ruang gelapnya Amigel. Kumohon bukalah matamu, lihatlah kejanggalan-kejanggalan Lodin. Dia itu vampir.

Apakah kau pernah dengar, kupu-kupu adalah jelmaan saudara kembarmu yang berbeda dimensi. Aku Arabell.

#31HariFF : Salah Tanggal


chair

Jorge duduk tenang di bangku taman berwarna cokelat kusam itu. Ia sudah menyiapkan buket mawar meraj kesukaan Tatiana, kekasihnya. Mereka berdua pernah berjanji akan bertemu kembali di taman ini setelah Jorge keluar dari penjara.
Continue reading

#31HariFF : Senja kali ini


senja

Tehku tinggal setengah cangkir. Aku memandnag lurus ke depan. Menikmati senja di teras belakang,ini sangat menyenangkan. Bau laut yang amis tak membuatku berhenti untuk menunggu si bola raksasa itu tergelincir ke batas horison.

Ini senja yang kusukai. Angin yang meniup pelan. Langit yang kemerahan dan deburan ombak yang suaranya seperti simfoni. Ahh, ini mengingatkanku padamu Erin. Bukankah dulu kita pernah bermimpi akan menikmati senja seperti ini, berdua saja di teras belakang rumah pantai kita ?

Erin, hati ini sepi sejak kepergianmu. Aku ingin berdua denganmu lagi, bercengkrama seperti biasa.

“Tuan Raffles, sudah malam mari masuk ke dalam.” kata seorang perempuan dengan tenang, meski sebenarnya ia nampak takut.

Aku mengangguk dan ia memapahku dengan lengannya yang kuat. Jericho, manula lainnya tertawa mengikik dan menganggu sekali suaranya. Ia menarik lengan perempuan itu, dan aku bisa melihat si payah itu berbisik.

“Hati-hati orang tua itu membunuh isterinya dua puluh tahun lalu,”

Pintu Panti jompo itu ditutup oleh perawat lainnya.

#31HariFF : Tiba-tiba menjadi ayah


dad

Aku membukakan mata dengan gusar. Kulirik jam di mejea kecil samping tempat tidur, ini bukan jadwalku bangun. Huh. Suara apa itu? bikin berisik. Bukan. Itu bukan suara gemuruh atau apapun. Itu terdengar seperti suara bayi.
Continue reading

#31HariFF : TEST PACK


TP

“Aku heran padamu Sairah, beranak kok tak habis-habis. Kau pikir aku pengusaha kaya yang mampu menghidupi tujuh turunan, kita ini miskin.”
Continue reading