Pencuri


Sedikit lagi , Kenny. Si Cantik itu dalam genggamanmu.

Kenny melangkah pelan dengan berjingkat dan ekstra hati – hati . Sinar infra merah yang membentuk jaring laba – laba di sekeliling kakinya itu , tidak terlalu tinggi hanya sebatas lutut. Untuk melewatinya , Kenny harus mengangkat kaki tinggi – tinggi seolah melompati kubangan air. Sedikit saja kakinya menyentuh salah satu sinar itu , tamatlah riwayatnya.

Gedung ini di desain dengan tingkat keamanan tinggi , untuk menghindari adanya pencurian. Untung saja ia sudah mengawasi gedung ini berbulan – bulan dan mempelajari sistem keamanannya , sehingga dengan mudah ia dan Ernest melumpuhkan jaringannya.

Di depannya , beberapa langkah lagi , sebuah berlian dengan pahatan proposional yang sempurna , dan termahal di dunia , berdiri dengan megah di dalam kotak kaca. Berlian itu menjadi satu – satunya ratu di ruangan ini. Kilau cahaya cemerlang berpendar menyinari ruangan gelap itu , sangat indah.

“ Kenny , apa kau masih bernafas, ? “

Terdengar suara yang muncul dari earphone yang di pasang di telinga Kenny. Sedikit membuyarkan konsentrasinya. Suara Sergei yang sedang mengawasi dari lubang angin.

“ Masuk. Kau mengacaukan konsentrasiku .“

“ Maaf teman, kupikir kau sudah tewas di sana .“

Kenny berjingkat selangkah lagi dengan hati –hati . Ia hampir keseimbangan tadi karena lantai yang sangat licin. Keringat mulai turun dari pelipisnya. Dari kesekian aksinya bersama tim yang sama, aksi malam ini membuat dada Kenny berdebar – debar.

Biasanya mereka hanya merampok bank dan rumah orang – orang kaya , tapi Leopold si kolektor berlian ternama di Italia berani mengajukan bayaran yang sangat mahal jika mereka bisa mencuri berlian termahal ini dari saingannya.

“ Sumpah demi Tuhan! setelah tugas ini selesai aku minta libur , pulang ke negaraku .“

Sergei tertawa kecil, “ Bodoh! Pencuri seperti kita tidak memiliki jam kerja , jadi setiap hari pun kau boleh libur. “

Suara lain masuk melalui earphonenya , kali ini Ernest yang mengawasi pintu depan.
“ Apa kalian sudah selesai ? cepat selesaikan tugas ini .“

Kenny menyeimbangkan posisinya , sinar infra merah itu hampir sedikit saja mengenai lututnya. Senyumnya mengembang melihat ratu termahal di dunia itu ada di hadapannya. Ernest yang ahli IT sudah mematikan jaringan alarm pengaman kotak kaca itu sejak tadi.

Kenny membuka kotak kaca tersebut dengan sarung tangan karet agar tidak meninggalkan jejak sidik jari. Hatinya berdegup kencang. Satu – satunya benda mati termahal yang tidak bisa di belinya jika ia masih menjadi mahasiswa penerima beasiswa Universitas Roma.

“ Astaga ! kurasa aku mendapat masalah ,“

Kenny berteriak namun tetap berusaha tenang. Sementara Suara Sergei dan Ernest berebut masuk begitu mendengar teriakan kawannya.

“ Ada apa kawan ?, “ tanya mereka bersamaan.

Kenny tersenyum.

“ Sepertinya pria melayu ini akan segera pulang kampung .“

Desah nafas lega terdengar melalui earphone dari Sergei dan Ernest. Mereka tahu arti kalimat Kenny barusan.

Tugas mereka berhasil. Berlian itu tidak akan ada di tempatnya lagi , esok hari.

*********

Semarang , Pkl. 15.00

Desa Cemara sedang di hinggapi cuaca yang sangat teduh siang ini, tidak terlalu terik. Mungkin akan turun hujan sore nanti. Ibu sedang di dapur menyeduh kopi , sementara bapak masih asyik saja memberi makan ayam – ayam kesayangannya.

Kuncoro merebahkan dirinya di atas kursi bambu sambil mengipasi badannya dengan kipas bambu. Sudah lama ia merindukan suasana desanya yang tentram seperti ini , jauh dari kebisingan kota , polusi , dan ketidak ramahan warga kota besar yang angkuh.

Sudah dua bulan ia berada di desanya. Ia menyempatkan diri menemui teman – teman masa kecilnya. Silaturahmi ke rumah Zubaidah, mantan kekasihnya yang kini sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Membantu bapak membetulkan kandang sapinya juga menemani ibu berjualan di pasar seperti yang pernah di lakukannya bertahun – tahun lalu.

“ Le’, hapenya bunyi tuuh,“ teriak ibu dari dalam rumah.

Handphone Kuncoro berbunyi nyaring hingga seisi rumah bisa mendengarnya.

Kuncoro terkejut dan bangkit untuk mengambil handphone dari dalam kamarnya.

Ia menatap layar ponselnya dengan penuh bimbang dan keraguan. Sebuah nomor sambungan internasional. Bapak yang merasa terganggu dengan dering handphone Kuncoro keluar dari kandang sapi dengan kesal.

“Kuncoro , mbo’ ya diangkat teleponnya jangan cuma di pandangin , berisik nak “ teriak Bapak.

Kuncoro menekan tombol “ Jawab”.

“ Ini Ernest! Sergei tertangkap interpol di Zambia, sebaiknya kita berpencar dan jangan melakukan komunikasi untuk sementara. “

“ Lalu ?”

“ Kurasa ia akan ‘bernyanyi’ .“

Klik. Sambungan telepon pun terputus.

Kuncoro. Pria berusia dua puluh enam tahunan itu terdiam.

Wajahnya pucat.

************

Tujuh tahun yang lalu.

Kenny terdiam. Matanya nyalang kemana – mana, berusaha mengumpulkan informasi dari otaknya. Mencari tahu dimana dirinya berada saat ini. Sebuah ruangan yang sama sekali asing baginya.Ia hanya mengenali Sergei yang duduk di sebelahnya dengan tenang.

“ Tenanglah kawan. Kita akan bertemu orang penting hari ini .“

“ Aku tidak yakin dengan tawaranmu , Sergei .“

Sergei pria kelahiran Kroasia itu menarik nafas kesal , di tariknya kerah kemeja Kenny.

“ Kau dalam bahaya kawan. Visamu habis beberapa bulan lalu, kau kehabisan uang di negeri asing , dan lebih parahnya kau ketahuan mencuri .“

Kenny mengibaskan tangan Sergei dari dari dadanya.

“ Memangnya yang akan kita temui sekarang , bisa menyelamatkanku ?.”

Sergei tersenyum.

“ Tentu saja. Dia salah satu keponakan dari mafia terkenal di kota ini “.

Pintu kayu berukir itu terbuka. Sergei dan Kenny terdiam, Pria berjas hitam itu tersenyum. Wajahnya tampan khas pria italia, dengan rambut hitam yang tampaknya baru saja di semir dan tercium parfum yang sepertinya mahal.

“ Selamat siang. Namaku Ernest “

Pria itu menjulurkan tangannya, tampak ramah.

Advertisements

5 thoughts on “Pencuri

  1. anshariachmad says:

    wow, ceritanya masuk dalam kategori narasi sugestif yang dibagi menjadi 3 scene dengan klimaks yang unik, mungkin perlu ditambahkan lagi kalimat-kalimat yang bersifat figuratif (kiasan) agar lebih menguatkan susunan narasinya.

    Teknik penulisannya masih perlu dikaji ulang. contoh :
    “Gedung ini di desain dengan tingkat keamanan tinggi , untuk menghindari adanya pencurian.”

    Revisi :
    Gedung ini telah didesain dengan tingkat keamanan tinggi guna menghindari terjadinya pencurian.

    huaaaa, makin nyolot gue komentarnya, udah ah segitu aja, ntar kena getok lagi sama yang komen pertama. uhukkk :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s