Adelaide & Andes


“ Apakah kesalahan terberat seorang malaikat ?”
“mencintai manusia “
“ Apakah hukumannya?”
“ Sayapmu akan di potong oleh belati milik Elbrus sang malaikat keadilan, dan kau di turunkan ke bumi sebagai manusia biasa .”

——-

Akumendongakkan kepala, Andes terlihat begitu tinggi sekarang. Wajahnya bersih dan cemerlang. Aku sudah seharian ini berusaha menyembunyikan kecemasanku. Cemas atau tak rela lebih tepatnya. Ya, malam ini ia akan kembali ke langit dan aku tak rela kehilangannya.

Kehadiran Andes telah merubah kehidupanku. Ia mewarnai hidupku yang semula hanya monokrom dengan warna cerah dan indah. Ia selalu bersikap hangat , seperti kedua sayap putih kusamnya yang merengkuhku ketika aku menangis minggu lalu. Aku begitu nyaman berada di sisinya yang tak pernah meninggalkanku sedikitpun. Hingga aku terlupa bahwa ia hanya malaikat yang tiba – tiba muncul di depan pintuku dengan luka di sebelah sayapnya. Akibat berkelahi dengan Etna. Salah satu malaikat yang sangat temperamental, Katanya.

“ Kau akan pergi malam ini ?” tanyaku. Berharap ia menundanya.

Andes tersenyum, mata birunya yang seperti kristal itu berkilat.

“Alpen telah menemuiku dan mengatakan bahwa Etna telah mengakui kesalahannya , aku tak punya alasan untuk tetap tinggal di bumi .

Aku menarik nafas lalu menghembuskannya dengan perlahan, “ tak punya alasan ? bahkan aku tak bisa kau jadikan alasan ?”

Aku bisa merasakan Andes mendekat dan membelai rambutku. Ia seorang malaikat dan seharusnya ia tahu mengenai kegundahanku. Keenggananku berpisah darinya dan tentang perasaanku padanya. Bahwa aku mencintainya.
Tetapi ia tak berbicara apa – apa mengenai perasaanku, menenangkanku atau mungkin menolakku secara halus. Tidak. Ia tidak melakukan itu dan aku di biarkannya terombang – ambing oleh perasaanku sendiri.

“ Kau tahu, aku adalah malaikat. Aku juga menyukaimu, tetapi aku lebih suka menjadi seorang malaikat lebih dari apapun,” katanya tenang.

Sombong. Andes tiba-tiba menjadi lebih sombong dari biasanya. Andes yang ku kenal sebagai laki-laki penuh welas asih itu berubah menjadi sombong sekarang. Andes yang kupikir seorang yang rendah hati itu sekarang mulai menghitung, menakar tinggi rendahnya status seorang malaikat dan manusia.

Bagaimana mungkin bisa ? bagaimana ia bisa berubah dalam sekejap, ahh tentu saja bisa. Ia seorang malaikat dengan segala kelebihan dan keistimewaan, ia bisa merubah apapun dalam sekejap termasuk merubah perasaannya sendiri.

“ Baiklah.” Aku menurunkan kakiku, bangkit dan melangkah ke kamar tidur.

“ Bisakah kau melakukan sesuatu untukku ?” aku menoleh padanya untuk terakhir kali.

Andes tersenyum dan kemudian tertawa. Tangannya mengibaskan sesuatu, “ Aku tahu. Tenanglah, saat kau bangun besok pagi kau dan semua orang yang terlibat selama kebersamaan kita tak akan pernah mengingat apa –apa .”

Ya terima kasih Andes, kau membaca pikiranku. Aku tidak ingin mengingatmu besok, mengingat segala hal saat kau bersamaku. Aku juga tak ingin orang-orang mengingatmu, karena hal itu akan menyakitkan jika mereka bertanya padaku, kemana Andes ?

Aku masuk kedalam kamar. Merasa terluka tetapi aku juga merasa penasaran, bagaimana cara Andes kembali ke langit. Aku tidak menutup pintu kamarku dengan rapat, kubiarkan sedikit celah agar aku bisa melihatnya.

Andes menengadahkan kepalanya ke langit dengan mata terpejam. Entah, merapal mantra mungkin. Pelan tapi pasti tubuhnya bersinar. Mulanya sinar yang keluar dari tubuhnya tidak terlalu terang, namun lama – kelamaan sinar putih itu semakin cemerlang juga menyilaukan.Andes menjadi pusat cahaya di ruang tengah yang gelap itu. Seiring dengan tubuhnya yang bercahaya itu, sedikit demi sedikit sesuatu keluar dari punggungnya. Sepasang sayap.

Sayap yang warnanya tidak terlalu putih. Ia keluar dari bagian tubuh Andes secara perlahan. Mulanya kecil saja dan pelan –pelan sayap itu semakin membesar dan bahkan bisa membungkus tubuh Andes itu sendiri. Andes bersiap untuk terbang, hal itu terlihat ketika ia mengepakkan sayapnya sekali.

Aku menyaksikan semua itu dengan pandangan takjub sekaligus rasa sedih. Ada perasaaan sesak di dadaku. Aku ingin menangis tapi kutahan, aku tidak ingin Andes terganggu dengan suara isak tangisku malam ini.

Andes mengepakkan sayapnya sekali lagi. Entah itu pertanda apa, ia ingin menyampaikan apa, tetapi aku bisa melihatnya menatap ke arah kamarku. Kulihat ia sedikit tertunduk dan seperti ada kristal bening yang jatuh dari matanya. Apakah ia menangis ?

Ia tahu bahwa aku melihatnya diam – diam. Malaikat itu menunduk sedih. Ia mulai mengepakkan sayapnya lagi dengan pelan dan kemudian cahaya putih yang menyinari seluruh tubuhnya itu semakin pekat dan menyilaukan mata. Dalam sekejap pria itu sudah menghilang dan perlahan sinar yang melingkupi tempatnya tadi bersangsur –angsur normal dan kembali menjadi ruang tengah yang gelap.

Aku menutup pintu dengan rapat. Apa yang kulihat tadi benar – benar menakjubkan. Malaikat yang ku cintai itu telah kembali ke langit dan esok mungkin aku tak akan mengingat apa – apa tentang hal ini.

Andes, kupikir aku harus menyimpanmu dalam sebuah kata-kata. Sebelum aku terlupa esok hari.

———————–

Gadis itu, Adelaide. Ya gadis itu tengah memberi makan kumpulan merpati yang dibiarkan bebas di taman kota. Wajahnya terlihat tenang dan damai. Seolah menikmati sekali kegiatan sorenya itu. Tentu saja, ia gadis yang baik. Semua orang menyukainya, bahkan aku bisa mendengar merpati – merpati itu juga menyukainya karena rajin memberi makan mereka di setiap sore hari. Sementara aku senang memperhatikannya dari atas sini.

“ Hey kenapa kau duduk – duduk di ? awan stratus terlalu rendah, kau bisa terperosok disini dan jatuh ke bumi ,“ tegur Etna . Aku tak tahu sedang apa ia di sini biasanya Etna tak pernah turun ke awan stratus.

“Aku hanya ingin melihat bumi dan Adelaide .“

Etna terpekik kaget. “ Kau ?! Oh tidak! Kau jatuh cinta padanya ?”

Aku tidak menjawab karena lebih senang melihat Adelaide daripada menjawab pertanyaan Etna. Lantas aku menoleh padanya ketika aku teringat akan sebuah legenda abadi yang sudah lama aku ingin tanyakan pada Etna.

“ Kau tahu kisah Aconcagua, yang di turunkan ke bumi karena mencintai manusia ?”

Etna menatapku serius, mungkin ia tak percaya aku menanyakan hal ini padanya. Tetapi aku tahu Etna tidak pernah menyembunyikan rahasia.

“ Ya. Nahas sekali dia, cintanya pada perempuan itu begitu kuat sampai ia rela menyerahkan sayapnya pada Elbrus yang sangat murka ketika itu .“

“ Belati Elbrus itu pastilah sangat menyakitkan bukan ?”

“ Kau tahu semesta sampai bergetar mendengar teriakan Aconcagua ketika Elbrus memotong sayapnya dengan belati pusaka itu, tetapi itulah pengorbanan yang dilakukan Aconcagua demi cinta seorang wanita. Aneh.”

Aku terdiam. Agak ngeri membayangkan sayapku harus di potong oleh belati milik Elbrus tetapi aku tak dapat membohongi perasaanku sendiri. Sejak keluar dari rumah Adelaide aku selalu teringat dengannya, dan menyedihkan sekali melihat Adelaide sama sekali tidak menoleh padaku saat aku pergi.

Aku mengetahui perasaan gadis itu. Saat itu aku belum terpikirkan untuk menghianati Elbrus meski akupun benar –benar menyukainya. Tetapi sekembalinya aku ke langit ada perasaan yang aku sendiri tidak mampu menguasainya. Perasaan yang membuatku berbunga – bunga ketika melihat Adelaide dari awan stratus. Aku mulai mencintainya.

Tetapi harus ada yang di korbankan untuk cinta. Elbrus sudah melarang keras untuk tidak mencintai manusia dan menghianatinya itu artinya membuatnya murka. Kisah Aconcagua menjadi pegangan para malaikat untuk tidak melanggarnya. Meskipun di bumi sebenarnya Aconcagua telah hidup bahagia sebagai manusia bersama Amerie istrinya.
Tetapi aku mencintai Adelaide lebih dari apapun.

————————

Huffhhtt. Aku lelah sekali hari ini. Siang tadi Mr. Rowan benar – benar menyebalkan, ia menyuruhku merapikan buku – buku kuno milknya ke atas lemari setinggi dua meter. Padahal aku sangat takut ketinggian, bahkan untuk dua meter sekalipun.

Aku membuat segelas cokelat panas untuk mengurangi rasa dingin. Salju sudah mulai turun di luar, kalau dalam cuaca seperti ini aku lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah tetapi menolak permintaan Mr.Rowan sama saja meminta diri untuk di pecat.

Aku terkejut bukan main, ketika pintu rumahku di ketuk. Setengah menggerutu aku menghampiri pintu masuk.
Siapa pula orang yang bertamu malam-malam begini?

Aku membukakan daun pintu. Seorang pria berjaket cokelat berdiri dan menggigil kedinginan. Aku tak mengenalnya meski ku akui ia sangat tampan.

“ Hai. Boleh aku masuk ?” tanyanya.

Membiarkan orang asing masuk kedalam rumah tentu akan sangat berisiko sekali, tetapi membiarkan orang lain menggigil kedingingan di luar pun rasanya sangat tidak manusiawi.

Aku mengangguk dan membukakan pintu dengan lebar.

“ Kau siapa ? “tanyaku bingung. Aku menambah tingkat kewaspadaanku terhadap orang asing ini.

Pria di depanku ini tersenyum, dan aku seperti pernah melihat senyum ini, tetapi entah siapa. Aku lupa.

“ Aku Andes ..maksudku Andreas.”

Aku mengerenyitkan dahi. Gagal mengingat siapakah pemilik senyum yang pernah kulihat itu. Tetapi nama Andes pun aku tak pernah mendengarnya, selain dari buku sejarah. Sepertinya.

“ Apakah aku mengenalmu ?” tanyaku terus terang.

Pria itu tersenyum lagi.

“ Mungkin ya, mungkin juga tidak .“

Aku mengerenyitkan dahi. Semakin bingung dengan orang asing ini. Bertamu di tengah cuaca buruk seperti ini rasanya mustahil, kalaupun hendak merampok pun rasanya apartemenku tidak menyimpan barang – barang mewah. Lantas apa maunya tamu asing ini ?

“ Kudengar kau menulis tentang malaikat?” tanya pria itu.

Jantungku berdetak cepat. Bagaimana ia bisa tahu kalau aku sedang menulis novel tentang malaikat ? bahkan Arien sahabatku pun belum ku ceritakan sama sekali,lantas bagaimana pria ini mengetahuinya?

Novel yang kusadur dari sebuah diary itu belum rampung benar karena di diary tersebut aku tidak menceritakan dengan detil tentang si malaikat. Bahkan aku tidak ingat kapan aku pernah bertemu malaikat , rasanya akupun belum pernah mengalami mati .

“ Malaikat bisa berwujud apa saja bukan, bahkan orang yang menolongku masuk kedalam rumahnya agar tak kedinginan pun adalah seorang malaikat,“ puji pria bernama Andreas itu dan hal itu membuat pipiku bersemu merah.

“Kau tahu seorang malaikat bahkan rela mengorbankan dirinya agar bisa bersatu dengan wanita yang dicintainya.”

Aku terdiam dan tersihir oleh kata-katanya. Mungkin referensi pria ini bisa kujadikan bumbu dalam novelku nanti. Aku menghidangkan segelas cokelat panas untuk tamuku itu.

“ Baiklah. Namaku, Adelaide .“

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s