cerpen: Aku,Dia,Istrinya dan Sahabat kami


Aku melangkah pelan menyusuri koridor lantai VVIP Rumah Sakit ini.Sepi tak ada satupun yang lalu lalang kecuali beberapa perawat atau penjaga kebersihan.Mataku memperhatikan deretan angka di pintu seraya mencari nomor kamar yang hendak aku tuju.Ahhh,rasanya aku sendiri belum siap kesini.Dadaku tidak juga tenang.Aku bukannya tidak siap berada ditempat ini hanya saja aku tidak siap menemui seseorang yang terbaring disini : Rio.

Aku berharap sebuah mesin waktu mengembalikan ragaku ke Bangkok saat ini,berada di kantor dengan pekerjaan yang tiada habisnya,memarahi kim seperti biasanya karena salah memberikanku kopi atau apalah.Tapi rupanya aku tidak beruntung.

Aku menemukan nomor kamar itu persis di hadapanku.Langkahku terhenti.Rasa ragu menyergapku.Dibalik tirai tipis aku bisa melihat sosok dua orang didalamnya tengah berbincang,Salah satunya adalah Rahen.

Ahhhh ya,pria itu,Rahen yang kemarin membujukku untuk datang kesini.Pria yang memohon padaku di telepon agar aku sudi mengunjungi Rio dan membuatku terpaksa mengingat lagi kejadian tiga tahun silam itu.

“Apa kau tidak tersentuh dengan ceritaku tadi?”tanya Rahen dari seberang melalui sambungan internasionalnya.
“Terlalu menyakitkan mengingat itu semua hen” jawabku lirih.
“Aku hamil tapi dia menikah dengan orang lain,belum lagi pengusiran dari keluargaku,aku bekerja keras di bangkok selama aku hamil sampai kenyataan pahit bahwa anakku lebih dulu sampai disurga sebelum ia menemui ibunya di dunia”aku menjawab Rahen dengan penuh emosional,mengingat semua itu yang timbul dalam perasaanku hanyalah amarah dan Rahen berhasil memancingnya keluar hari ini.
“Sama menyakitkannya ketika Rio mengetahui semua penderitaanmu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa bahkan penolakanmu sebulan lalu itu membuatnya makin menderita “.
Aku terdiam.Ya Rio memang datang ke Bangkok sebulan lalu,Entah dari mana ia mendapatkan alamatku dan aku sungguh terkejut saat ia bersujud memohon ampun atas kesalahannya tiga tahun lalu itu tapi aku menanggapinya dengan dingin dan mengusirnya.
“Aku tahu ia menderita saat harus berpura-pura menjadi suami baik di depan keluarganya bahkan di terhadap Lisa,tapi hatinya tetap untukmu”.
Aku diam mendengarkan penuturan Rahen dengan setengah tidak percaya bisa saja ia membual berlebihan agar aku datang ke Jakarta dan bertemu dengan Rio.
“Dokter bilang tipis harapannya untuk hidup,tetapi nafasnya masih berjalan saat ini adalah keajaiban mungkin ia menunggu sesuatu dan aku tahu ia menunggumu evita” ,lanjut Rahen lagi setelah itu tak lama kemudian ia menutup sambungan teleponnya.

Rio Kurnianto,bah! lelaki itu terbujur lemah karena sebuah penyakit yang belum ada obatnya.Dari balik tirai aku bisa melihatnya tubuhnya yang mengurus dengan selang oksigen di hidungnya dan peralatan kedoketeran yang membuatku bergidik melihatnya.
Aku baru saja hendak mengetuk pintu ketika seorang wanita membukakannya.Kami berpandangan dalam diam.Wanita di hadapanku ini sangat ayu sekali,dengan wajah khas jawa.Matanya yang besar terlihat sembab,mungkin lelah setelah menangis.Tampangnya kusut entah sudah berapa hari ia tidak tidur tampaknya.

“Mencari siap mbak?”,tanyanya pelan hampir tidak terdengar.
“Hey,Evita! “ ,Suara Rahen mengangetkan kami berdua.
Mendengar namaku dipanggil dan aku tersentak,wanita yang kukira istrinya Rio itu juga tersentak.Wajahnya langsung berubah masam ,”Masuklah,Sri biarkan ia masuk”ucap Rahen pelan.
Wanita yang dipanggil Rahen dengan nama Sri itu kemudian mempersilakan aku masuk.Dan kulihat sosok itu terbaring lemah di tempat tidurnya.Sosok yang masih dicintainya sampai kini,sosok yang amat pula dibencinya hingga kini,Rio Kurnianto.

****************************

Ohhh namanya Evita.
Nama yang cantik seperti orangnya.Cantiknya mampu menyihir suamiku empat tahun ini didalam hatinya padahal jelas-jelas aku yang berada di sampingnya.Ia yang kutahu dari Rahen telah ditinggalkan Rio dalam keadaan hamil untuk menikah denganku,lantas apakah aku harus meminta maaf padanya?tentu saja tidak,itu bukanlah kesalahanku.Waktu yang memisahkan mereka.

Sejujurnya aku tahu kenapa ia datang jauh-jauh dari Bangkok kesini.Rahen memintanya,Oh Tuhan haruskah Rahen lagi-lagi ikut campur?!.Suamiku itu sudah cukup menderita dalam sakitnya,akan lebih baik jika Tuhan menjemputnya sesegera mungkin dan anggap saja itu bonus dariNya untukku karena telah bersabar menghadapi Rio yang tak pernah mencintaiku.

Dan yang membuatku sangat terkejut adalah,ia sangat cantik sekali.

******************************

Aku duduk di sisi tempat tidurnya dengan hati-hati.Agak takut aku melihat wajahnya yang telah sangat berubah.Tirus seperti wajah yang kesakitan.Aku membelai pelipisnya dengan jari manisku.Entah kenap aku begitu iba padanya,ia yang sebulan lalu kuusir mentah-mentah di Bangkok,kini berubah sekali.Tak terasa air mataku menitip di pelupuk mataku.Rasa sakit hatiku seketika berubah menjadi kasihan.Ia yang sudah lama kurindukan bertahun-tahun.Ia yang membuatku terpaksa melarikan diri ke Thailand demi kesembuhan hatiku.Ia yang membuatku kehilangan segalanya karena cinta.

“Aku datang,bukankah kau menungguku sayang?”bisikku pelan.
Tak ada respon.
“Ia terjatuh dari tangga di rumah kami”ucap wanita yang sebelumnya kudengar Rahen memanggilnya sri.Aku terkesiap lalu menyeka air mataku dan bangkit.Entah aku merasa tidak enak terlihat begitu meratapi Rio di hadapan istrinya.
“Ohhh,begitu”sahutku singkat.
“Ya,kami baru saja bertengkar malam itu,setelah kepulangannya dari luar kota sebulan lalu aku tak tahu apa yang merasukiku sampai aku mendorongnya” suara Sri mulai bergetar saat mulai menceritakan kronologi jatuhnya Rio.

Pikiranku berkecamuk.Jika benar Rio koma sejak sebulan lalu,bukankah itu artinya saat pria itu kembali dari Bangkok?lalu apakah Rio mengatakan pada istrinya bahwa ia pergi ke luar kota?apakah mereka bertengkar setelah itu hingga istrinya mendorong Rio dari tangga karena terlalu emosi?.
“Apakah kalian perlu aku kenalkan lagi”suara Rahen mencoba melucu untuk memecahkan kekakuan diantara kami,tapi tampaknya Sri membuang muka dan aku pun tak mau memaksakan.Ketika Sri pamit untuk kembali ke rumahnya dan Rahen mengantarnya dengan penuh perhatian.Aku memenuhi permintaan Rahen untuk menunggui Rio sebentar.
Sekali lagi aku memandangi peralatan kedokteran yang mengelilingi Rio.Tampak Menyeramkan.Apakah dengan bantuan alat itu yang membuatnya tetap hidup walau tak sadar.Aku mendekatkan wajahku di telinganya.
“Aku Evita yang kau cari sebulan lalu.evita yang menyakitimu kemarin.aku minta maaf,sekarang aku datang bangunlah”.ucapku pelan.
Masih tak ada respon.
“Aku memafkanmu sayang,bangunlah dan lihat aku lagi”,lanjutku berbisik di daun telinganya.
Rio masih terbujur kaku.Aku menangis sesegukan,entah bagaimana membuat Rio tersadar kembali rasanya usahaku sia-sia saja bahkan suarakupun yang dirindukannya tak membuatnya tersadar.Aku mencium keningnya sekali lagi dan merebahkan kepalaku di sisi lengannya.Tak lama kemudian aku pun terlelap karena terlalu letih setelah perjalanan dari bangkok.
Yang tak kusadari,Rio menangis.

*****************************

“Aku membenci wanita itu!”geram Sri saat tiba di rumahnya bersama Rahen.”Kami bertengkar karena dia setelah Rio pulang dari luar kota,aku yang mendorongnya,aku yang membuat Rio menjadi seperti ini tetapi semua itu karena wanita bernama Evita”.
Rahen memeluk Sri dengan hangat untuk meredakan emosi nya.Berada di posisinya memang serba tidak enak,di satu sisi Rio adalah sahabatnya,disisi lain pun ia kasihan dengan wanita berparas ayu yang disia-siakan sahabatnya ini.Malam itu Sri meneleponnya dengan ketakutan dan memintanya untuk datang,sesampainya disana ia terkejut sekali menemukan tubuh rio tertelungkup di bawah tangga dengan kepala berdarah dan di lantai atas Sri sedemikian gugup dan ketakutan.Mereka pun sepakat membawanya ke rumah sakit dan sampai kini Rio mengalami koma.

“Menurutmu apakah Rio akan tetap hidup”Tanya Sri lagi.
“Kita berdoa saja,Rio sangat mencintai Evita makanya aku memanggilnya ke Jakarta,aku berharap jika mendengar suara wanita yang dicintainya itu ia akan bangun dari komanya”.
Sri menunduk sedih,”Lalu jika benar ia tersadar,aku bagaimana?mengapa suaraku sendiri tidak membuatnya sadar,bukankah aku ini istrinya”perlahan wanita itu menyeka airmatanya.
Rahen mengangkat dagu Sri dan tersenyum penuh perhatian,“Sudahlah,istirahat saja aku akan ke Rumah Sakit menemani Evita,kau kembalilah nanti malam”.
Sri mengangguk,ia memejamkan matanya ketika Rahen mencium keningnya dengan lembut.

******************************************

Apakah benar itu suaranya?suara evita ku?
Ia menangis di lenganku?oh tidak,jangan menangis sayang.
Tuhan,Kenapa aku tidak bisa menyentuhnya?
Tidak bisa membelainya,tidak bisa menyeka pipinya?
Tidak!kenapa aku tidak bisa menggerakan tanganku?
Bukankah tadi ia mencium keningku?
Lantas kenapa aku tidak bisa menggerakan kepalaku sedikit saja.
Evita tolong aku,Jangan pergi dulu.
Evita,aku mencintaimu.Sampai mati.

****************************************

Aku menyeka pipiku yang terasa lembab.Uffhhtt,sudah berapa lama aku tertidur disini ?.Rio yang terbujur di depanku masih juga tak bergerak.Hey,bukankah tadi aku melihat airmata dipipinya?apakah tadi itu mimpi ?.Benda elektronik berbentuk segi empat di sisi tempat tidur Rio masih juga menunjukkan garis-garis kurva yang naik turun.
Kemana Rahen?rasanya aku harus membersihkan wajahku agar lebih segar?.
Aku bangkit meraih tas Prada-ku,tapi rasanya ada yang aneh ,entah aku tak tahu apa tapi rasanya sangat janggal.Ahhh,mungkin aku harus mengucapkan sesuatu pada Rio.Aku menghampirinya dan duduk persis menghadapnya.Aku membelai keningnya lalu pipinya.
“Rio,aku harus merapikan diriku sebentar agar ketika kau membuka matamu nanti,kau melihatku dengan cantik,I love you” ucapku seraya mencium keningnya.Aku bangkit dan melangkah menuju pintu,tapi lagi-lagi rasa ragu melandaku,aku membalikkan badah ketika baru saja kusadari,benda segi empat itu menunjukkan sesuatu.

“Ohhh,tidak!tidak! susteeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrr!!!!!!”,Aku berteriak sekuat tenagaku berharap siapapun makhluk yang berada didekatku segera menghampiriku.Ya,entah berapa lama aku pun terkulai lemas.

****************************************
Aku membetulkan kerudung hitamku dan menaikkan letak kacamata hitamku.Taman Pemakaman ini sudah hampir kosong karena sebagian pelayat sudah pergi,tinggal beberapa penggali tanah saja yang sedang merapikan sisa tanah merahnya.Aku pun tadi melihat Sri dan Rahen yang sudah pulang lebih dulu.
Bau kamboja,mawar dan melati yang masih segar terhirup olehku.Sepertinya teman-teman dan keluarganya menabur begitu banyak bunga.Aku masih terkulai tak berdaya,Dihadapaanku Rio berbaring di atas tanah merah.Kemarin ,ya kemarin ketika aku hendak meninggalkannya sebentar dan benda segi empat itu yang menyadarkanku.Semua panik,dokter,suster dan Rahen yang kulihat muncul.Tetapi aku tidak melakukan apa-apa,hanya diam.Aku bingung tak tahu harus berbuat apa.

Rio meninggalkanku,untuk kedua kalinya namun kali ini lebih abadi.

Aku membalikkan tubuhku menuju taksi yang kusewa tadi pagi.Kakiku gontai.lemas.

“Airport pak”ucapku pelan seraya meraih passport dari dalam tas.

*********************************

Usai menyalami para pelayat dan berterima kasih Rahen menghampiri Sri yang masih termangu di depan kolam ikan favorit Rio.Wajah wanita itu masih sembab karena menangis semalaman.Rahen membawakan segelas teh hangat untuknya.

“Suamiku…hen”Ucap Sri lirih.
“Sudahlah,ikhlaskan saja,semua ini ketentuan Yang Maha Kuasa”Rahen berupaya menghibur Sri dan memeluknya dengan damai.
“Ya,aku ikhlas”ujar Sri lagi.
“Akupun ikhlas mencintaimu,Sri”.

Advertisements