Halusinasi


Aku menggebrak meja di kamarku. Lina perawat berusia dua puluhan itu benar-benar keterlaluan. Sudah mendekati idul fitri tetapi ia tidak juga mengantarkan sebuah kartu untukku. Sudah tiga tahun bekerja disini seharusnya ia tahu kebiasaanku menjelang idul fitri, mengirim kartu Idul Fitri. Seperti pendahulunya yang selalu mengantarkan kartu ucapan itu seminggu sebelum idul fitri, huh, apakah anak itu minta aku adukan kepada Ibu kepala untuk dipecat.

“ Minta maaf bu Sofia, saya lupa. Kemarin sibuk mengurus administrasi menggantikan Dinar.”

Aku mendengus kesal seraya menerima kartu ucapan yang di berikan Lina dan membiarkannya pergi. Kini kartu segi empat berwarna biru langit itu ku tatap dengan lekat-lekat. Ahh, seharusnya aku sudah bisa menentukan mau menulis apa di kartu ini tetapi hari ini aneh, aku seperti bingung sendiri apa yang hendak kutuliskan kepada kekasihku di sana. Ramadhan.

Tiga puluh tahun, aku menunggunya. Tetapi sepertinya akan harus lebih lama lagi atau bahkan tidak akan pernah bisa bertemu sama sekali. Hakim yang entah disuap berapa puluh juta itu telah menjatuhkan vonis seumur hidup kepada kekasihku, untuk kesalahan yang sampai saat ini aku tidak pernah percaya kalau itu di lakukan oleh Ramadhan. Tiga puluh tahun lalu, saat pertama kali aku menjenguknya saat idul fitri, aku berjanji akan mengiriminya kartu idul fitri sebagai bukti bahwa aku dengan setia selalu menunggunya.

Ini tahun ke Tiga puluh.

Seperti apa rupanya sekarang, seperti apa tubuhnya sekarang. Tiga tahun setelah kepindahanku ke Kalimantan ini aku tidak bisa mengunjunginya lagi. Kekayaanku kuserahkan pada sepupu kepercayaanku Ali untuk mengelolanya dan aku lebih memilih menyendiri disini, jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Sampai aku tidak pernah mendengar lagi kabar dari Ali, dan aku terdampar di gedung kusam ini bersama wanita-wanita tua nan menyedihkan.

Akhirnya aku hanya menulis sebaris kalimat kerinduan padanya. Disertai doa dan harapan yang terdalam untuk bisa menemuinya. Aku memasukkannya ke dalam amplop dan kupanggil Lina yang tergopoh-gopoh menghampiriku. Ia tersenyum sumringah melihatku.

“ Kok kamu senyum-senyum begitu, ada apa ?” tanyaku.

“ Bu Sofia hari ini cantik, bibirnya sudah dipoles dengan warna merah menyala. Mau kemana sih ?”

Aku tersenyum tersipu. Aku tahu ini bukan pujian yang sekedar basa-basi. Aku memang cantik, meski beberapa garis keriput sudah terlihat di raut wajahku tetapi aku bisa memperbaikinya dengan riasan.

Kecantikanku ini yang dulu memikat Ramadhan, karena itu pulalah aku selalu merawat kehalusan kulitku agar suatu hari ketika bertemu dengan Ramadhan aku bisa tampak mempesona.

“Aku bosan disini Lina, aku ingin ikut ke kantor pos dan mengirimkan kartu itu dengan tanganku sendiri .”

Raut wajah Lina tampak bingung. Ahh, aku tahu itu pasti karena ia harus meminta ijin pada ibu kepala, atau memang ia hanya memiliki ongkos seorang saja. Masalah klasik, ia bisa menggunakan jatah yang di kirimkan Ali untukku kalau mau.

“Biar aku yang meminta ijin pada ibu kepala, untuk ongkos pakai saja jatah bulananku dan lebihkan untuk kita makan di luar nanti, sesekali kau harus menikmati makan enak bersamaku.”

Lina mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruang administrasi. Sementara aku menemui Winda, ibu kepala yang sudah mengenalku sangat lama. Kami berbincang sebentar dan akhirnya ia memberikan ijin untuk menemani Lina pergi ke kantor pos.

Sepagi ini cuaca sudah cukup panas dan itu menyebalkan sekali. Tapi aku berusaha menikmati perjalanan ini. Jarak dari gedung menuju kantor pos memang tidak terlalu jauh hanya naik angkot satu kali. Aku melihat banyak perubahan di sana-sini. Kota ini tumbuh begitu cepat, sudah banyak lahan kosong yang di sulap sebagai ruko dan tempat belanja, belum lagi kendaraan yang semakin membludak di jalanan. Aku seperti berada di dunia yang baru.

Kota sekecil ini saja sudah berubah begitu banyak, bagaimana dengan Jakarta sebagai ibu kota, tempat Ramadhan-ku berada.

Lina menuntunku menuruni angkot. Kantor pos kecil itu tanpak sepi. Lina yang membeli perangko sementara aku menunggunya. Kini perangko yang sejak dahulu ukurannya tidak pernah berubah itu ada dalam genggamanku. Aku membubuhkan lem di belakangnya lalu kutempelkan di pojok sebelah kanan kartu idul fitriku.

Aku menatap lekat-lekat kartu itu dengan penuh mesra. Dalam beberapa hari kemudian Ramadhan akan membacanya dan mungkin akan merasakan cinta yang sama denganku saat ini. Meski aku yakin ia tidak akan pernah membalas kartuku. Mungkin peraturan di Rumah Tahanan terlalu ketat sampai ia tidak bisa membalas kartuku. Pikirku.

Aku mencium kartu itu, lama. Aku tidak perduli Lina memandangku aneh karena mencium kartu begitu lama seperti mencium kekasih. Ya, memang kartu ini untuk kekasihku. Ramadhan. Usai menciumnya lantas aku melangkah menuju petugas kantor pos dan memberikannya. Kuperhatikan petugas tersebut memperhatikan sejenak alamat yang hendak kutuju, memberikannya stempel lalu membuangnya ke dalam sebuah keranjang.

Lina menuntunku lagi keluar dari kantor pos. Seperti janjiku padanya, kami akan makan siang dengan menu yang enak. Lina harus merasakan makan enak sekali dalam seumur hidupnya, setelah selama ini ia hanya makan dari katering yang rasanya seperti sampah itu.

——————————————–

Aku menjatuhkan diri di sofa. Sial. Kena potongan lagi gajiku. Seharusnya tadi aku tolak saja tawaran bu Sofia. Memang tidak terlalu banyak, karena sebagian akan di ganti oleh Bu Winda. Ahhhhrrrrggghh, orang tua itu kenapa masih menganggap dirinya sama dengan masa mudanya yang penuh kaya raya. Tetap sombong dan angkuh, pantas saja ia di pisahkan oleh keluarganya di panti ini.

“Sudahlah jangan menggerutu nanti ibu ganti kerugianmu, Pak Ali sudah enam bulan ini tidak mengirimi bu sofia, ya sudahlah mungkin usahanya sedang bermasalah,” kata Bu Winda bijak.

“Iya bu, tetapi ada baiknya kita memberi tahu hal ini pada Bu Sofia agar ia bisa mengerem gaya hidup mewahnya, ini panti bu bukan rumahnya, membelikan kosmetiknya pun sudah menghabiskan anggaran,” gerutuku.

Entah kenapa Bu Winda ini selalu saja menuruti keinginan Bu Sofia, mungkin karena ibunya dulu pernah bekerja di rumahnya makanya Bu Winda selalu merasa berhutang budi. Tetapi menurutku, Bu Sofia harus di perlakukan sama dengan lansia lainnya yang ada di panti ini agar tidak ada cemburu sosial. Akan lucu sekali kalau para lansia ini tiba-tiba berkelahi gara-gara kesenjangan sosial. Huh lebih baik aku berhenti saja jika berita itu sampai muncul di koran dengan headline yang di tulis besar-besar “ LANSIA MENGAMUK DI PANTI KARENA CEMBURU”

“ Aku tahu. Sulit memang merubahnya, sama sulitnya dengan memberitahunya tentang segala perubahan yang ada, tentang Pak Ali yang bangkrut, tentang Ramadhan yang di tunggunya tentang kartu-kartu yang tidak pernah kita kirimkan, ia juga manusia ,biarkan ia hidup dalam bayangan indahnya dan aku tidak ingin menganggunya.”

Bu Winda membuka lemari cokelat yang selalu terkunci itu lalu mengeluarkan sebuah box berukuran sedang dan menaruhnya di depanku. Aku terlonjak begitu melihat isinya. Kartu – kartu dengan amplop yang mulai menguning itu menumpuk didalamnya. Aku meraih satu buah kartu lalu membukanya.

Kalimantan, January 1997

Kekasihku Ramadhan,
Idul Fitri ini aku masih menunggumu, sudah lewat beberapa tahun yang lampau sejak kita berpisah. Ali mengatakan bahwa ia akan tinggal di USA dan menitipkanku di gedung ini dengan lansia lainnya,sebentar saja . Oh Ramadhan, kapankah kita akan bertemu ?

Aku menoleh pada Bu Winda yang tersenyum.

“ Sejak mengidap schizoprenia, Pak Ali menitipkan Bu Sofia pada panti ini. Ia tidak benar-benar ke Amerika, ia hanya tidak tahan dengan halusinasinya tentang lelaki bernama Ramadhan, sikap sombong dan angkuhnya yang selalu merasa hebat dan banyak harta.”

Aku tertunduk dan tiba-tiba merasa sangat kasihan sekali pada wanita renta itu. “ Tentang Ramadhan itu apakah ia benar-benar ada ?”

Bu Winda mengangguk, “ ia di penjara karena membunuh. Sepuluh tahun berada di penjara ia terlibat kerusuhan di dalam dan mati tertusuk belati milik teman satu selnya.”

Perih. Perih mendengar penuturan Bu Winda tersebut.

“ Aku membiarkan ia hidup dengan impian-impiannya karena nampaknya Bu Sofia benar-benar mencintai lelaki ini dan inilah yang membuatnya bertahan untuk hidup, karena pertemuan yang di janjikan lelaki bernama Ramadhan ini.”

Aku menatap nanar keluar jendela. Sudah petang rupanya, tapi petang ini senja tidak datang melainkan mendung. Ya, ini hari ke 30 bulan ramadhan, gema takbir nanti malam mungkin akan bersahut-sahutan dengan suara hujan. Di kamar yang terletak di ujung koridor gedung ini dengan daun pintu berwarna biru langit itu, Bu Sofia mungkin akan terlelap seraya memeluk foto usang lelakinya. Ia pasti akan tidur dengan perasaan bahagia karena kartu idul fitri sudah di kirimkannya sendiri tadi siang.

Ia bahagia meski hanya memiliki halusinasi.

Dan aku bahagia, halusinasi membuatnya kuat untuk bertahan hidup.

“Minal aidzin wal faidzin maaf lahir bathin, bu Sofia.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s