Nasi Bungkus


Bungkusan berisi nasi dan ayam goreng itu tergeletak di meja.

Agak malas sebenarnya bagi Lastri untuk membawanya. Ia Masih kenyang. Mbok Nah malah membungkusnya tadi sewaktu mampir di rumah Kak Raras. Kalau lapar di jalan, katanya. Hadeuuhhh…jarak Jakarta – Bogor itu bukan seperti jarak Jakarta – Semarang yang bisa berjam – jam.

Tetapi Lastri tetap membawanya juga. Daripada di cemberuti oleh Mbok Nah.

“ Jangan menolak rejeki, jangan pula kau buang nasi itu di tengah jalan. Kau masih kenyang sekarang, tetapi ada orang lain yang bahkan belum pernah merasakan kenyang seharian ini ,“ gerutu Mbok Nah.

“ Iyaa, nih aku bawa.” Lastri memasukkan nasi bungkusnya ke dalam tasnya yang menggembung karena terlalu banyak isi. Ia memakai sepatu ketsnya, mencium tangan Mbok Nah lalu keluar pagar.

Perjalanan Jakarta – Bogor lancar. Karena sudah malam mungkin, sehingga jam – jam macet pun sudah terlewati. Tetapi kalau sudah mulai jam bubarnya karyawan pabrik, jalanan akan terasa sempit sekali. Baik oleh angkot – angkot yang ngetem, motor yang di parkir sembarangan, bahkan penjual kaki lima yang hampir menguasai sebagian jalan. Benar – benar kota yang semrawut.

Lastri turun dari bis dan melanjutkan perjalanannya dengan angkot. Hujan turun dengan sangat deras, seolah luapan balas dendam karena sepanjang siang tadi matahari sangat terik sekali.

Sebuah angkot berwarna hijau berhenti di depannya. Hanya beberapa penumpang saja. Lastri melihat sekilas angkotnya. Lampunya terang, kaca jendelanya pun tidak di lengkapi kaca film berwarna gelap, tiga penumpang yang berada di dalam adalah seorang bapak – bapak berumur sekitar lima puluh tahun, seorang ibu muda dengan bayinya, dan seorang anak tanggung berumur belasan tahun.

Ahhh, sepertinya ini angkot yang aman. Tidak seperti kasus – kasus angkot yang sedang hangat di berita. Tidak gelap, dan kaca jendelanya pun bening. Dilihat dari tampang supirnya pun sepertinya tidak masalah, supirnya terlihat ramah.

Setelah memastikan angkot berwarna hijau di depannya aman, Lastri pun naik.

Di pertigaan Selima, seorang anak kecil berumur enam tahun naik dan duduk di dekat pintu. Badannya kurus dan kuyup sehabis berhujan – hujan di luar. Bocah itu mulai menyanyikan lagu yang tidak jelas lagu apa, suaranya pun tidak kencang yang terdengar hanyalah suara yang bergetar menahan dingin. Entah sudah berapa lama bocah itu bermain hujan di luar, sampai tubuhnya menggigil seperti itu.

Pemandangan bocah kecil di depannya itu membuat Lastri tertegun dan mengalihkan matanya dari ponsel. Bocah ini menggigil kedinginan, apakah ibunya tidak menyuruhnya untuk pulang ? padahal ini sudah larut malam. Bocah ini malah memilih angkot yang hanya berisi tiga penumpang, yang mungkin belum tentu semuanya akan memberi uang usai ia menyanyi nanti.

Lastri melirik ke depan. Sebentar lagi ia akan sampai. Tetapi matanya beralih lagi ke bocah pengamen di hadapannya. Banyak pertanyaan di benaknya, ada perasaan kasihan di dalam hatinya.

“Kiriiiiiii..!” teriak Lastri. Angkot berwarna hijau itu berhenti seiring dengan berhentinya nyanyian si bocah.

Bocah itu turun di tempat yang sama dengan Lastri.

Ada uang kembalian dari angkot tadi, mungkin ada baiknya di berikan saja pada bocah ini. Lumayan untuk membeli Indomi rebus.

“ Hei, dik. Sini!”

Bocah itu menoleh dan menghampiri Lastri.

“ Nih. Udah makan belum ?” tanyanya.

Si bocah pun menggeleng. Wajahnya pucat senada dengan bibirnya yang mulai memutih menahan dingin.
Lastri mengeluarkan nasi bungkus yang di siiapkan Mbok Nah tadi sore. Kata simbok, membuang nasi itu pamali, tetapi kalau di berikan ke orang lain yang butuh pasti simbok pun tak keberatan.

“ Dimakan ya, ada nasi sedikit.”

Si bocah tersenyum memperlihatkan giginya yang kuning. Seperti ada harapan yang muncul dari rona wajahnya. Ia menerima sebungkus nasi dan ayam goreng itu dengan tangan yang bergetar. Akhirnya hari ini ia bisa memasukkan sesuatu ke dalam perutnya yang seharian ini kosong.

Melihat senyum yang muncul dari raut si bocah hati Lastri merasa lega. Dua hal telah di lakukannya. Tidak melanggar kata – kata Mbok Nah, dan ia telah bersedekah.

“Alhamdulilah.”

**

Pkl. 07.00

Lastri mengeluarkan motor maticnya. Ia pun menyiapkan segala keperluanya sebelum berkendara. Helm oke. Jaket oke. Sarung tangan oke. Semuanya di kenakan dengan singkat dan cepat. Dalam beberapa menit ia sudah melajukan motornya menuju kantor.

Lastri harus berangkat pagi agar tidak terjebak di kemacetan yang klasik setiap hari. Tetapi ia kurang beruntung kali ini. Tepat di pertigaan Simpangan Kuin kemacetan sudah mulai terjadi. Tetapi pagi ini sepertinya berbeda. Tampak sebuah mobil polisi dan ambulan di sana. Lastri tidak bisa melihat lebih jelas karena pandangannya terhalang pemotor lainnya. Sirine mobil ambulans dan deru kendaraan saling bersahutan pagi ini, hanya untuk melihat dan mencari tahu.

Lastri melajukan motornya dengan pelan. Mungkin semalam terjadi perampokan, pembunuhan atau apalah yang membuat pagi ini semakin macet saja. Tetapi hal itu bukan menjadi urusannya sekarang, yang harus ia lakukan adalah keluar dari kerumunan kendaraan yang sengaja memperlambat laju mereka untuk melihat – lihat.

“ Ya ampun! Kaya gini aja di liatin, nanti siang juga ada di koran.” Gerutu Lastri.

Lastri berhasil keluar dari kerumunan. Peluh sudah membasahi keningnya. Ia melajukan lagi motornya dan berharap dapat segera pergi dari kerumunan itu secepatnya. Belum ada lima meter ia melajukan kendaraannya, sesuatu mengganggu pikirannya.

Kenapa tiba – tiba dirinya merasa harus kembali ke sana ? perasaan apa ini ? ada apa sebenarnya ? siapa yang kecelakaan itu ?

Tak mau berlama – lama di ganggu oleh pikirannya sendiri, Lastri memutar arah.

Ia turun dari motornya. Dua orang petugas sedang menggotong tandu berisi korban yang di tutupi kain putih. Lastri harus berjinjit untuk bisa melihat lebih jelas. Tetap saja pandangannya terhalang orang – orang yang mengerumuninya. Semakin mendekati lokasi semakin dadanya berdetak cepat. Pikirannya di rasuki ketakutan. Ia takut jika ternyata ia mengenali korban itu. Langkahnya terhenti sebentar karena seorang laki – laki bertubuh tambun mendorongnya.

“ Kasihan anak itu ya, “ Sayup – sayup Lastri bisa mendengar percakapan dua orang wanita di belakangnya.

“ Semalam makanannya di rampas oleh seorang preman, uang hasil mengamennya juga di ambil lalu ia dibunuh ,“ Kata wanita yang satunya lagi.

“ Hidup terlampau sulit buat anak sekecil itu.” Sahut wanita di sebelahnya.

Dada Lastri semakin berdegup kencang.

Laki – laki bertubuh tambun itu menggeser tubuhnya sehingga Lastri bisa melihat dengan jelas sekarang. Namun rupanya korban pembunuhan itu sudah di masukkan ke dalam ambulans. Sirine Ambulans mulai terdengar dengan berisik. Lastri mendekati mobil ambulans tersebut.

Ia terkejut bukan main. Kain penutup wajah si korban sedikit tersibak.

Lastri tiba – tiba merasa lemas. Wajah itu ia kenal.

Yang di berinya nasi berisi ayam goreng, semalam.

“Hidup susah, matipun mengenaskan.” Gumam seseorang di belakangnya.

Lastri mundur perlahan. Ia bingung harus berbuat apa. Wajah anak itu terus hadir di pikirannya. Ia ingin menangis tapi tidak bisa. Ia ingin melihatnya lagi tetapi ia tak kuat. Kenapa orang yang di tolongnya semalam justru harus mengalami nasib yang naas. Kalau tahu akan menjadi seperti ini lebih baik ia buang saja nasi itu semalam, ia tidak perlu merasa menyesal dan anak itu pun tidak mati. Tetapi semuanya terlambat sekarang.

“ Mbaak.”

Lastri menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia terlonjak kaget. Kali ini pikirannya sama sekali tidak bekerja dengan baik. Ia merasa di permainkan oleh pandangannya sendiri.

Anak yang di berinya nasi bungkus semalam berdiri di belakangnya. Anak yang sama yang dilihatnya tergelatak di dalam ambulans.

“ Mbaak.”

Lastri menoleh lagi ke arah ambulans yang mulai menjauh.

“ Kamu ? lalu yang di dalam sana ? “

Wajah anak itu terlihat murung. Ada duka di matanya. Seperti air mata yang tidak bisa di keluarkan. Seperti penyesalan.

“ Saudara kembar saya. Semalam nasi itu saya berikan padanya, ia sedang sakit dan belum makan seharian itu.”

Anak kecil itu lalu menunduk, seorang ibu separuh baya memanggilnya.

“ Kalau saja preman itu memintanya dari saya, mungkin akan saya pertahankan untuk saudara kembar saya itu .“

Suara panggilan wanita itu semakin nyaring dan memekakkan telinga. Anak kecil itu tak berlama – lama menghadap Lastri, ia segera pamit dan berlari menghampiri ibunya.

Lastri terdiam. Angin yang bertiup pelan mengibaskan anak rambutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s