Posesif


Ardan jatuh terkulai. Dari mulutnya perlahan keluar buih – buih bersamaan dengan susu yang baru saja di minumnya. Ia menggelepar sebentar lalu kemudian diam tak bergerak masih dengan susu yang membasahi lantai.

***

“ Kau ini bodoh sekali Ardan sudah jelas Siska menghianatimu ! apakah foto – foto ini belum cukup ? “ teriak Karina sambil melemparkan beberapa foto ke meja . Ardan yang di pojokkan tak menjawab apapun selain tatapan kosong, perasaan bingung tetapi juga kemarahan yang tidak terlampiaskan. Ia meratapi foto mesra istrinya itu dengan seorang pria berkacamata.

Isteriku berselingkuh ! kenapa ? bukankah segala kebutuhannya sudah kupenuhi.

“ Ceraikan dia Ardan ! “ desis Karina tak sabar melihat reaksi Ardan yang sangat lamban menanggapi hal serius seperti ini. Pria itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan seperti ingin menangis tetapi di tahan.
“ Tidak semudah itu Karina, aku mencintainya dengan sangat aku tidak percaya dengan semua ini, foto – foto ini pasti rekayasa “

Karina mendengus kesal ia merasa tak mampu lagi menasihati sahabatnya itu.

Mereka bertiga, dirinya, Ardan dan Siska adalah sahabat akrab sejak kuliah sampai kini. Karina yang mengetahui perselingkuhan Siska sejak awal tidak tahan lagi dan menceritakan semuanya kepada Ardan dan berharap Ardan menyadari kesalahan yang dilakukan isterinya itu tetapi apa terjadi justru membuatnya heran, Ardan tidak terpancing emosi untuk lantas menceraikan Siska seperti perkiraannya.

” Aku mencintai Siska dan juga Sarah putriku, menceraikannya itu hal yang sangat tidak mungkin Karina, kau sahabatku berilah aku solusi yang terbaik “

“ Aku juga sahabat Siska Dan, Melihatnya menghianatimu aku kasihan padamu, banyak wanita yang masih mau menerimamu lalu untuk apa mempertahankan wanita yang tidak menghargai lagi perkawinannya “

“ Apa kau termasuk dari mereka ? yang mau menerimaku, menerima keadaanku ?”

Karina tertunduk dan berguman kecil, “ Ya “.

**
Di kamarnya Karina memperhatikan foto – foto perselingkuhan Siska yang berjejer dengan rapi. Diperhatikannya wajah Siska yang meski telah berusia tiga puluhan tetapi masih terlihat cantik sama seperti waktu mereka masih kuliah. Siska yang selalu menjadi primadona kampus, Siska yang selalu menjadi pusat perhatian para pria dan Siska yang cantik dengan sifat arogannya yang menyakiti hati Karina, Siska yang mengejeknya karena memiliki wajah pas – pasan, dan Siska yang menggagalkan cintanya dengan Ardan. Ada rasa iri di dalam hati Karina dengan keberuntungan Siska.

Tetapi Karina selalu menerima semuanya, ia mengalah, ia menghargai persahabatannya dengan Siska dan tetap mempertahankannya sampai sekarang bahkan ketika Siska memintanya untuk tidak memberitahu Ardan soal perselingkuhannya tersebut dan Karina menurut.

Tapi membiarkan Ardan terus di sakiti, terus bertekuk lutut di hadapan Siska, ia tak bisa menerimanya sama sekali.

**

“ Aku tahu kau menyukai Ardan sejak dulu “ ucap Siska suatu hari di coffe shop.

Karina terperangah, “ maksudmu ?”

“ Tidak usah kau berlagak bodoh Karina, satu – satunya wanita yang mungkin akan menjerat suamiku adalah sahabatku sendiri dan kau tahu kabar baiknya, ketika Ardan sudah menceraikanku kau baru boleh memilikinya tetapi sebelum itu jangan pernah bermimpi Karina , sebab Ardan tak akan pernah berani menceraikanku “

Hati Karina panas dan emosinya mulai terbakar tetapi ditahannya karena ia menyadari bahwa mereka berada di tempat umum. Siska sudah sering mengejeknya dengan berbagai kalimat pedas tetapi kali ini ia merasa Siska benar – benar keterlaluan.

“ Kau tahu rasanya menjadi wanita cantik Karina ? seperti surga, di puji – puji, di cintai banyak orang, diperebutkan untuk dimiliki aaaahhh..kau tak kan pernah bisa merasakan hal itu Karina wajahmu terlalu jelek “

“ Kau puas mengejekku Siska ? bagaimana kalau aku berhasil mendapatkan Ardan ? bagaimana kalau ia menceraikanmu ? “

Siska tertawa penuh sinis di pandangnya Karina dari atas sampai bawah, “ Kau mau melawanku ? mau bertaruh ? ahh, lupakan soal taruhan kau miskin tak akan mampu bertaruh denganku “

Karina meremas ujung taplak mejanya. Rahangnya bergemeretak tetapi ia berusaha untuk menahan emosinya.

**

“ Aku tidak bisa melakukannya Karin, tidak bisa menceraikannya hatiku tidak sanggup “ ucap Ardan dengan sesegukan di rumahnya. Karina bermaksud mengajak Ardan menuju pengadilan Agama tetapi pria itu tiba – tiba membatalkannya.

“ Kau lemah sekali Ardan, sungguh menjijikan melihatmu pasrah dengan kelakuan istrimu “

“ Kau tahu Karin, aku bersumpah atas nama Tuhan untuk sehidup semati dengan istriku dan aku akan menjalankannya, kau sahabatku yang terbaik Karin dan sangat membantuku menerima semua ini “

Braaaakkkkkk!!!! Karina menggebrak meja.

“ Bodoh kau Ardan ! Bodoh ! “

**

Satu bungkus untuk kekasih yang tak bisa kumiliki.
Satu bungkus untuk wanita jalang dan penuh nista itu.
Satu bungkus lagi untukku kalau aku merasa kesepian.

“ Jika aku tidak bisa memilikimu, maka dia pun tidak bisa “ guman Karina.

Serbuk – serbuk berwarna putih itu berceceran diatas meja dan Karina segera mengambil lap untuk membersihkannya. Ia membuang sisa bungkus yang tidak terpakai.

Di depan labelnya tertulis “ SIANIDA”