Pulang, entah kapan


Bis besar antar kota itu menurunkanku di tepi jalan. Seorang kenek berpakaian kumal dengan mata yang kuyu karena kurang tidur membantuku menurunkan beberapa tas yang tidak terlalu besar. Sesaat setelah bis yang membawaku dari Jakarta sampai ke desa ini melaju kembali, aku masih berdiri terpaku.

Aku tiba di desa ini lagi.

Angin dingin menampar pipiku. Masih subuh memang, pukul empat pagi. Sambil menikmati suara lantunan ayat kursi dari mushola yang tidak jauh dari tempat berdiri, aku sibuk memutar otak mencari angkutan yang akan membawaku ke dalam desa. Lima tahun aku tidak pulang mengunjungi orang tuaku. Terdengar seperti anak yang durhaka memang, tetapi aku melakukannya untuk sebuah alasan. Tidak Yakin.

Lantas apakah dengan berdirinya aku di pinggir jalan desa ini, dan menempuh dua belas jam perjalanan sudah dibilang bahwa aku pada akhirnya yakin untuk pulang ?

Tidak begitu yakin sebenarnya,tetapi aku harus punya niat karena itulah satu-satunya yang menguatkanku untuk pulang. Entah pada akhirnya aku akan di caci maki bapak dan ibu atau paling buruknya di usir untuk kedua kali dari dirumahnya, itulah yang harus kuhadapi.

“Suit..suit….simbaknya boleh dong di godain.” Teriak dari kuli-kuli yang menumpang truk besar saat melewatiku.

Ahhh, aku lupa menghapus riasan di wajahku yang sudah mulai sedikit luntur oleh keringat. Lipstik dan bentuk alisku harus segera terhapus sebelum aku benar-benar sampai di rumah. Aku melepaskan kain syal berwarna oranye dan memasukkannya ke dalam tas.

Gila! Aku hendak pulang dengan membawa itu semua. Ahh, aku sudah gila pasti.

“ Mau diantar kemana mas ?” tanya seorang tukang ojek yang berhasil kucegat dari perempatan jalan. Aku bersyukur setidaknya pagi ini masih ada yang memanggilku dengan mas.

“ Sumberasih,” kataku pelan. Entah si tukang ojek mendengar atau tidak ketika aku berusaha mengatur suara basku.

Dibalik jaket yang tidak terlalu tebal, aku bisa merasakan angin yang menerpa dadaku. Dingin. Desa di kaki gunung ini masih memiliki angin yang sama sejak kutinggalkan lima tahun lalu. Angin yang senantiasa mengingatkan masa kecilku disini, yang juga mengingatkanku pada peristiwa perih itu.

Rumah dengan atap berhias ukiran jepara itu sudah mulai terlihat. Jantungku makin berdebar mendekati pintu pagarnya. Aku memilih melewati pintu samping yang menembus mushola kecil di dalam rumah. Aku yakin bapak dan ibu pasti sedang mengaji disitu. Aku berjalan pelan tanpa suara, baru saja kupegang gagang pintu terdengar ayah berbicara sementara ibu menangis sesegukan.

Apakah mereka bertengkar ?

“ Sudahlah bu. Bapak minta maaf kalau kalimat bapak tadi menyinggung perasaan ibu,” Kata bapak.
Ahh, ya mereka bertengkar rupanya.

“ Bapak gak mengerti, perasaan yang ibu tanggung selama ini. Perasaan yang ibu tahan-tahan karena untuk mengutarakannya, ibu perlu mencari waktu supaya bapak ndak marah .”

“Tapi aku kan sudah bilang, soal ini jangan pernah di ungkit-ungkit lagi.”

Aku tertegun sejenak. Tak enak rasanya menyela pembicaraan mereka. Entah apa yang menjadi sumber pertengkaran mereka, tetapi jika aku yang juga pernah menjadi sumber petaka di rumah ini tiba-tiba masuk dan menyela, pastilah bapak akan sangat marah. Sebaiknya kutunggu saja disini.

“ Tapi ibu rindu pak.”

“Ibu sebaiknya di simpan saja perasaan itu, bapak tidak mau mendiskusikannya lagi.”

“Bapak tidak mau memaafkannya ?”

Apakah mereka membicarakanku ? Sepertinya begitu.

“Tidak sebelum Alimin insyaf dan bertobat. Aku tidak mau mempertaruhkan keberadaan pesantrenku dengan menyimpan anak lelaki yang bertingkah seperti wanita, lebih baik aku tidak pernah melihatnya sampai mati.”

Aku tertunduk. Mereka membicarakanku. Lalu kudengar suara ibu yang menangis histeris, aku sudah bisa menduganya. Bapak tidak akan berusaha mendiamkan ibu yang menangis, ia lebih memilih menjauhinya, memanggil ningsih adikku untuk mendiamkannya. Aku sudah hafal sikap bapak.

Kenyataan bahwa bapak lebih memilih untuk tidak melihatku dari pada melihat keruntuhan pesantrennya, sangat menyakitkanku. Aku mundur perlahan, menjauhi pintu dan kemudian dengan berjingkat, aku berbalik , berjalan menjauhi desa ke tempat tadi aku diturunkan oleh tukang ojek. Aku setengah berlari , aku tidak ingin tetangga, teman masa kecilku, atau orang-orang yang mengenalku, pernah melihat aku berada disini tadi pagi. Mumpung hari belum begitu terang, aku harus pergi dari sini.

Aku tidak perlu menunggu terlalu lama karena saat aku kembali ke jalan besar, sebuah bis berhenti di depanku. Aku tidak tahu kemana bis ini akan membawaku, aku belum menanyakan jurusan bis yang kutumpangi ini. Yang penting dan sangat penting adalah, aku harus segera pergi dari desa ini.

Nafasku tersengal-sengal. Ini peristiwa yang sama dengan lima tahun lalu, dan aku mengulanginya. Bedanya kali ini aku sudah mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk sekalipun. Karena hal terburuk dari kedatangan ini adalah kepulanganku tidak di harapkan. Dan hal itu benar-benar terjadi.

Aku menatap nanar jalanan di sisi kananku. Menjadi laki-laki yang bertingkah seperti wanita, begitu bapak menyebutku tadi. Ya, aku tidak menyalahkan bapak karena telah menyebutku seperti itu. Aku juga tidak menyalahkan ibu yang membiarkanku bermain dengan teman-teman Ningsih sejak kecil. Aku tidak menyalahkan Ningsih yang dengan sembunyi-sembunyi mengajakku bermain di meja rias ibu . Aku memang demikian, dan itu juga bukan salahku.

Bapak masih menolakku. Cukup. Mungkin aku tidak akan memaksakan diri lagi untuk pulang di tahun depan. Entah sampai kapan ?

Advertisements

4 thoughts on “Pulang, entah kapan

  1. naussea says:

    ahaaaaay …. keren nih tulisan, penempatan kondisinya sempurna, apalagi jika diperkenalkan tokohnya (nama, umur) agar benang merahnya lebih berasa dan lebih menyentuh …..

    ah saya suka cerita ini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s