Tuhan menghiburnya


Bus transjakarta berwarna merah menyala itu membukakan pintu otomatisnya. Deya masuk dan mengambil tempat di sebelah sudut tidak jauh dari tempat sang supir berbaju batik cokelat, tak lama kemudian ia mengambil ponselnya dan mulai sibuk dengan dunia jejaring sosialnya. Ketika sedang asyik bermain dengan ponselnya Deya tertegun, matanya mungkin tak akan menangkap sosok di depannya itu jika saja bis tidak mengerem mendadak karena seorang penyebrang jalan yang serampangan. Sosok berkemeja cokelat yang duduk di depannya.

Mereka mirip, sangat mirip sekali. Ya, pria dihadapannya itu dengan Jean Mark pria yang pernah mengisi hatinya empat tahun lalu, keduanya memiliki bentuk tubuh yang sama dengan pipi membulat dan mata yang besar, laki – laki itu terlihat serupa bahkan kemejanya sekalipun, cokelat bergaris – garis seperti kemeja yang dipakai Jean Mark waktu menjemputnya ke kantor .

Ahhh, kuasa Tuhan! kenapa Engkau membiarkanku mengingatnya lagi, dengan menampilkan sosok pria yang semirip itu dihadapanku.

Deya mengalihkan pandangan. Ada rasa sedih yang timbul dengan apa yang baru dilihatnya, mengingat masa lalu yang menyakitinya dan rasa rindu semu yang melintasi ruang dan waktu sedemikian menganggunya terhadap sosok Jean.

Tuhan, sejak kemarin aku rindu setengah mati padanya, apakah ini caramu menjawabku ? mewakili rinduku dengan seseorang yang mirip dengannya untuk menghiburku?

Gadis itu berupaya agar tak bertatapan dengan sosok dihadapannya, ia menunduk, ia melayangkan pandangan ke jendela, sesekali memperhatikan penumpang lain didalam bus tersebut namun tetap saja matanya tak mampu menolak rasa penasaran yang melingkupi perasaannya, rasa penasaran yang mengalahkan penolakannya. Akhirnya Deya menyerah dan sesekali melihat sosok di hadapannya itu dengan diam – diam, hatinya sedikit senang.Senang melihat kembali sosok yang dirinduinya meski bukan orangyang tujunya. Deya sesekali memperhatikan setiap inchi wajah dari pria itu dan mencoba mencari – cari letak kesamaan mereka. Terlalu banyak.

Suara petugas informasi yang mengumumkan shelter pemberhentian berikutnya terdengar. Shelter tujuan Deya, ia bangkit berdiri ada sedikit rasa kecewa karena harus turun lebih dulu. Deya melangkah pelan beberapa orang turun di shelter yang sama, gadis itu melambatkan langkahnya agar tidak berdesakan di pintu keluar dengan penumpang lainnya.

Deya menarik nafas. Mungkin sampai disini Tuhan ingin menghiburnya. Gumamnya.

Deya melirik ke papan penunjuk arah berwarna hijau mencari keterangan jalan keluar yang harus dilaluinya untuk bisa transit lagi, ketika ia menemukan arah yang hendak ditujunya ia berbelok menuju pembatas besi namun seseorang memanggilnya.

“Mbak, bukunya terjatuh ”

Deya menoleh, laki – laki itu tersenyum padanya seraya memberikan novelnya yang terjatuh tanpa sadar. Gadis itu tertegun sejenak. Laki – laki itu yang duduk di depannya tadi, yang di lihatnya dengan mencuri – curi, laki – laki yang mirip dengan sosok Jean Mark.

” Novel yang bagus ” katanya tersenyum seraya memberikan buku pada Dheya yang masih tertegun. Lalu tak lama kemudian laki – laki dengan pipi berisi itu pergi meninggalkannya dan hanya menyisakan bayangan punggung yang sedikit demi sedikit ikut menghilang terhalangi lalu lalang penumpang lain.

Deya tersenyum.

Tuhan selalu pandai menghiburnya.