Cerita Bromo : part 1


Saya selalu suka dengan pegunungan. Hawanya, sejuknya, dinginnya selalu membuat saya kangen dan ingin kembali ke sana. Dieng menjadi tempat yang penuh kejutan dan pengalaman bagi saya dan kali ini di tambah dengan sensasi yang saya dapatkan ketika mengunjungi Bromo. Bromo yang pesonanya hanya bisa saya nikmati melalui gambar-gambar indah saja kali ini saya nikmati dengan mata telanjang, saya rasakan langsung dan perasaan yang timbul hanyalah berseru memujiNya, mejuji maha karyaNya dengan lafazh subhanallah.
Yup setelah mengobrol dan diskusi dengan seorang teman bernama rhein (http://www.rheinfathia.com/) akhirnya kami memutuskan berangkat awal November lalu.

Yippiieee,,berbekal semangat, nekad dan modal yang cukup, cukup untuk jajan dan transportasi  akhirnya kami berempat berangkat melalui stasiun Jatinegara. Kami berempat ( saya, rhein , mas indra, dan rama) menimati perjalanan dengan tidur, eyalah secara mereka pulang kantor, bagaimana dengan saya ? well, saya menikmati perjalanan dengan melihat ke luar jendela yang memang tidak ada yang bias dilihat selain rumah-rumah, pohon yang berjalan cepat, dengan kata lain saya tidak bisa tidur :p

Selamat pagi surabaya!
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 13 jam akhirnya kami tiba di kota pahlawan. This is my 1st time landed at Surabaya. Saya tak tahu banyak mengenai kota selain dari sejarahnya dan landmarknya yang popular, patung buaya..well tetapi saya tidak punya banyak waktu itu melihat itu. Sesampainya di stasiun pasar turi kami hanya makan pagi sebentar lalu melanjutkan perjalanan menuju terminal bungur dan mencari bis lagi, ya kami menuju probolinggo.

Tiga jam menuju probolinggo, saya tidak menghabiskan waktu dalam perjalanan dengan tidur seperti teman saya yang lain ( mereka sukses menyenderkan kepala di bangku masing-masing) , saya tidak pernah disini dan saya tidak akan melewatkan sejengkal pun tiap kota yang saya lalui.
Siang terik kami sampai di probolinggo, setelah makan siang seadanya kami bertemu dengan sepasang muda-mudi dari Jogja.Hey ternyata tujuan kami sama, setelah sedikit bernegosiasi dengan pemilik kendaraan untuk bias sampai ke atas akhirnya kami pun menyewa sebuah mobil.

Jreng!!!! Naik…naik…ke puncak gunung!
Sesampainya di atas hawa dingin mulai menerpa, padahal waktu masih siang sodara-sodara. Kami memutuskan mencari penginapan di sekitar Ds.Tengger itu. Masyarakatnya ramah dan tak keberatan untuk mengantarkan kami memilih-memilih rumah yang akan kami sewa. Dingin rupanya mengundang lapar ya, tak ayal saya pun melahap semangkok bakso ( mohon jangan tanyakan bagaimana rasanya …hahahaha) dan tak mau ikut-ikutan debat soal harga sewa losmen.
Losmen dipilih, harga sudah disetujui dan teknis pulang esok harinya pun sudah okeh. Senangnya kalau sekelompok dengan teman-teman yang ringan sama dipikul berat sama dijinjing.. (maaf kalau peribahasanya terbalik0.

Lihat-melihat sekitar

Usai berbagi kamar, membersihkan diri dan sedikit berbincang dengan warga sekitar kami berenam memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar penginapan.Sedikit naik keatas…holaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..!!
sebuah gunung menjulang, namanya gunung batok dengan hamparan laut pasir di bawahnya..indah banget! Kelihatannya kecil tetapi jika melongok ke bawah rasanya mobil-mobil jeep yang melintas di lautan pasir itu seperti semut-semut berwarna saja.subhanallah.
Kami melanjutkan lagi naik ke atas, melintasi kebun-kebun kol, bawang yang masih basah karena tersiram hujan, semakin dingin tetapi juga pemandangannya semakin indah. Kamera yang kami bawa maupun ponsel pun melakukan tugasnya dengan baik , memotret setiap inchi dari pemandangan indah itu dan pose-pose pemiliknya yang memang narsis abis…wkwkwkwkw

Jelang magrib kami turun dan untuk mengisi perut dipilihlah sebuah rumah makan sederhana, setelah maklum dengan menu yang ditawarkan kami mengobrol ringan sambil menunggu sajian. Nasi goreng, rawon, nasi rames dan mie rebus. Kehebohan terjadi saat Meta berseru bahwa rawon yang di makannya terasa amis, beberapa teman yang memesan rawon pun sontak mengehentikan acara makannya, berbagai kesimpulan didapat tetapi kami lebih memilih diam dan menggantinya dengan menu lain.Maklum akan keadannya.

Saya sedang makan nasi rames ketika sayup-sayup terdengar suara (menurut saya) pengajian, saya bilang kepada teman-teman saya bahwa magrib sudah datang. Beberapa dari kami tertawa, sayapun disuruh mendengar dengan seksama…oaaaalaaaahh..saya lupa bahwa di desa ini menganut hindu, rumah makan kami tidak jauh dari pure dan suara yang saya dengar tadi adalah sembahyangan dari sana.Duuhhh, malunya saya.

Poker face

Jelang malam kami kembali ke losmen. Desa sudah sepi padahal baru jam delapan malam. Untuk menghabiskan waktu sementara sahabat dari jogja memilih untuk menonton televise, saya, rhein, mas indra dan rama memilih untuk bermain poker. Disini saya benar-benar awam soal permainan ini, biasanya saya Cuma jadi penyeru saja kalau teman-teman main poker di kampus. Thanks to Rama, saya diajari teknisnya meski kelihatanm bodoh ( dan memang kadang saya membodohi diri sendiri wkwkwkw) saya bisa mempelajari dengan cepat, hingga beberapa kali strike…horeeeeee!! Permainan berakhir jelang pukul 11.30, karena harus bangun pada pukul 03.30 kami pun memutuskan untuk tidur.

Tidur tersiksa atau disiksa?

Hufthh…pegunungan malam hari memang menyiksa.dinginnya. Persiapan tidur saya mengenakan jaket dua, sarung tangan, kaus kaki, dan selimut. Berhasil??? Tentu saja tidak. Dinginnya benar—benar membuat saya beku entah berapa derajat yang jelas meringkuk saja rasanya bukan hal baik untuk mengurangi rasa dingin. Pegal-pegal ? ya. Tulang-tulang rasanya seperti di buat gemeretuk karena terus meringkuk.hoaaaaahhhh…!

Advertisements