cerita Bromo ;Part 2


Selamat subuh bromo!

Pukul 03.30 kami dibangunkan pemilik losmen, mobil jeep hijau sudah menunggu di halaman. Saya yang masih terkantuk segera bangkit dan mengambil tas kecil,cuci muka dan langsung naik ke jeep.Jleg!jleg!jleg! jeep rasanya menjadi transpotasi tidak nyaman, karena struktur jalan yang berbatu . Kami berhenti disebuah perhentian jeep, setelah itu kami naik sendiri mengikuti rombongan yang sudah ada.
Hosshh…hoshhh….pengalaman naik ke gunung sindoro, dieng terjadi lagi. Terjal, licin dan jauuuhhhh!! Saya sempat berhenti beberapa saat karena kehabisan nafas, saya biarkan teman-teman pergi lebih dahulu dengan maksud kalau saya sampai tidak sanggup mendaki lagi saya akan menikmati sunrise dari bawah saja.
Etappppiiiii…??? Setelah perjalanan hampir 15 jam, saya harus kalah oleh sesak nafas begini saja ? tentu saja tidak,terima kasih. Dengan langkah sedikit-demi sedikit dan dibuat senyum oleh tingkah seorang turis dari india akhirnya saya sampai di puncaak…holaaaaaaaaaa!!!!

Tempat berkumpul untuk menyaksikan sunset sudah dipenuhi turis bule dan local, tentu saja turis india yang sejak dari bawah terus meracau…selamat pagi Indonesia!! Atau menyemangati orang-orang “come on..come on..keep walking guys!”.
Sunrise tidak terlalu sukses pagi ini, mentarinya malu-malu dan berpencar. Sedikit kecewa tetapi tetan tidak mengurangi keindahan puncak gunung batok yang diselimuti awan di bawahnya..subhanallah..saya seperi berada di kahyangan saja.sementara asap dari bromonya mengepul, gunung batok bersemayam angkuh di tempatnya dan hanya di kelilingin kabut adan awan tipis di sekitarnya. SUMPAH! Inilah pemandangan paling eksotik, mirip dengan gambar-gambar yang biasa saya lihat sejak kecil.
Saya tidak mau beranjak, sambil menikmati segelas milo hangat, menyaksikan bule india yang tengah bicara dengan pengunjug local..dan tiba-tiba diajak menyanyi lagu chaiya-chaiya…sungguh sangat lucu, si india berani malu rupanya.https://annehardianty.files.wordpress.com/2011/11/385531_10150381663144824_620174823_8208384_1477729568_n1.jpg” alt=”” title=”385531_10150381663144824_620174823_8208384_1477729568_n” width=”640″ height=”480″ class=”alignleft size-full wp-image-347″ />

Kaldera,kuda dan rasa.

Usai turun gunung,kami melanjutkan dengan jeep menuju lautan pasir. Saya membayangkan seperti adegan pasir berbsisknya dian sastro well tetapi karena semalam turun hujan, rasanya apa yang ada di bayangan saya berbda jauh sekali. Turun dari jeep saya makin dibikin kagum, gunung batok tepat didepan saya menjulang angkuh.beberapa pemilik kuda menawarkan untuk mengantar samapi kaldera. Tetapi kami hanya ingin menikmati yang ada, kami memutuskan berjalan 2 km melintasi lautan pasir dan terkagum-kagum dengan pure yang berdiri tak jauh dari kaldera.mistis dan fantastis.
Kaki saya mulai protes karena kelelahan, jalan yang harus ditempuh masih jauh, tetapi saya terus melangkah pelan-pelan, ini momen berharga dan saya tak mau melewatkannya.Saya sampai di tangga curam menuju kaldera. Inilah tangga paling tinggi yang pernah saya temui, menuju kaldera, licin dan dipenuhi pasir basah membuat saya harus ekstra hati-hati agar tidak terperosok.

Sesampainya d pinggir kaldera, saya makin dibikin kagum oleh CiptaanNya. Uap yang mengepul di bawah kaki saya, dahsyat dan mengerikan, jadi beginilah rupa gunung yang erupsi beberapa waktu lalu itu. Saya berdiri di titian jalan yang kecil, sebelah saya adalah kawah dan sebalah lainnya bukit pasir yang menurun, salah melangkah saja entah bagaimana saya. Tapi rupanya kawan saya rama mau mebuat pengalaman bagi dirinya sendiri, ia tidak mau turunm lewat tangga seperti orang lain, ia ingin menuruni lewat bukit pasir tersebut, niat yang mengagumkan. Ketika ia bersiap menuruni bukit, saya hanya bias melihat saja, pelan tapi pastyi akhirnya ia sukses turun sampai bawah. Dan seorang turis rupanya maengikuti langkahnya.hufffhhtt..laki-laki.

Pengalaman pertama naik kuda

Turun menuruni tangga yang sama.Saya puas.menikmati pemandangan yang ada. Saya memutuskan turun dan kembali ke jeep. Kalau boleh jujur betis sudah mengajukan protes untuk istirahat, beberapa pemilik kuda menawarkan jasanya kembali, setelah berdebat dengan rama akhirnya tercapai harga yang sepakat.kami menyewa kuda masing-masing.
Baiklah, saya bohong kalau bilang baik-baik saja. Tidak! Saya ketakutan setengah mati. Ini kuda lebih besar dari saya bagaimana jika saya terjatuh, setidaknya akan ada tulang saya yang patah ( efek kebanyakan baca buku). Saya berteriak ketakutan ketika kudanya mulai sableng…tetapi teman saya terus meyuruh saya naik kuda tersebut, sayang udah dibayar, katanya. Sompret!!! Ini nyawa bung! Kok ya disamain dengan duit 2oribu.
Tetapi pemilik kuda juga terus menyemangati saya agr melanjutkan (yeaaahh,,s ecara..) baiklah, saya mencoba reflek dan rileks (tapi bohong hehehe).alhamdulilaaaaaahh…Cuma itu yang bias saya sebut sewaktu sam[pai di jeep dan turun dengan susah payah dari punggung kuda.

Check out
Kami memutuskan chek out jam 11.30 untuk bias mengejar kereta di jam 5 sorenya. Hiks…hiks….melihat bromo saat meninggalkan losmen rasanya sedih, baru kemarin saya tiba dan menikmati indahnya kini harus pergi lagi.entah kapan pula saya bias kembali lagi kesini.
Kami berpisah dengan sahabat dari Jogja tersebut di probolinggo. Sementara kami melajutkan perjalanan, tidur tapi ya tidak tidur benar-benar karena masih terbayang bromo yang beberapa jam lalu masih disana.
Sesampainya kami di stasiun pasar turi, saya menghela nafas dan membatin, “selamat tinggal, Surabaya!”

Jakarta! Here’s mama come!

Dua belas jam perjalanan, akhirnya samapailah saya kembali di Jatinegara. Dengan membawa cerita, kesenangan, pengalaman dan keseruan di hati. Saya berpisah dengan ketiga teman-teman saya di stasiun ini, mungkin dengan backsound yang lebih pas yaa…
Di jatinegara kita kan berpisaaaaah..sebutlah nama, alamt serta, esok lusa boleh kita jumpa pula….

Advertisements