Sekedar mampir ke Kota Tua Jakarta


Seharian ini saya berada di kota. Well, memang saya akui walau sering wara – wiri ke Jakarta tetapi saya belum pernah menjejakkan kaki di tempat wisata ini. Kesalahan saya adalah datang di hari minggu sehingga tidak maksimal menikmati apa yang disajikan di kawasan yang dibangun sejak jaman belanda ini. Penuh sesak.

Menikmati gedung –gedung dengan struktur bangunan yang kokoh membuat saya sedikit membayangkan suasana asri jaman dahulu kala dengan wajah – wajah indo bertopi putih dan noni bergaun merah jambu yang berseliweran didaerah ini. Memasuki salah satu musium yaitu musium wayang pun saya di buat takjub, yang menurut sejarah adalah bekas gedung gereja dengan pintu – pintu tinggi dan daun pintu yang tebal terdiri dari beberapa ruangan,ahh rasanya seperti kembali ke jaman hindia belanda.

Didalam musium wayang sendiri kita disuguhkan oleh lukisan – lukisan karya maestro indonesia dan beberapa benda keramik dari dinasti china. Dengan harga tiket yang cukup murah dua ribu rupiah perorang, rasanya cukup memuaskan pikiran saya kembali membandingkan dengan film-film holywood yang memiliki sistem canggih untuk melindungi karya bersejarah, semoga saja musium ini juga memilikinya sehingga benda – benda yang ada di musium ini pun turut terlindungi.

Usai keluar masuk musium sayah pun melanjutkan perjalanan, demi memenuhi penghuni perut yang berteriak lapar sayah membelokkan kaki ke sebuah kantin bernama Mega rasa. Agak terkejut saya ketika memasuki kantin ini karena di penuhioleh para anggota komunitas fotografi dengan model-modelnya yang berdandan heboh, mulai dari gaya gothic sampai sexy, kemudian saya mafhum bahwa kota tua memang seringkali dijadikan lokasi untuk pemotretan baik itu amatir maupun profesional.

Kembali ke lapangan di depan musium fatahilah saya sedikit miris melihat banyaknya pedagang yang berhamparan di lapangan seperti pasar malam menurut saya. Kalau deretan penyewa sepeda mungkin masih bisa saya tolerir tetapi dengan banyaknya penjual kaki lima sampai ke tengah atas bagaimana pengunjung bisa menikmati kota tua dengan bersepeda ?

Kemudian saya sedikit tertarik dengan atraksi di depan musium fatahilah yang berasal dari suatu daerah. Mereka menampilkan atraksi debus, cambuk dengan bunyi – bunyian khas seperti yang biasa terlihat di atraksi reog dan menurut saya akan lebih baik jika mereka menampilkan atraksi tersebut dengan kostum seragam daerah khas karena yang menonton bukan saja pengunjung dari Indonesia tetapi juga turis manca negara, yah hitung – hitung mengharumkan nama bangsa laah.

Tetapi bagaimanapun berkunjung ke Kota tua ini seolah menjadi kewajiban jika anda berada di Jakarta karena disana anda akan mendapatkan pengetahuan tentang sejarah Jakarta itu sendiri.

Advertisements