#31HariFF : Senja kali ini


senja

Tehku tinggal setengah cangkir. Aku memandnag lurus ke depan. Menikmati senja di teras belakang,ini sangat menyenangkan. Bau laut yang amis tak membuatku berhenti untuk menunggu si bola raksasa itu tergelincir ke batas horison.

Ini senja yang kusukai. Angin yang meniup pelan. Langit yang kemerahan dan deburan ombak yang suaranya seperti simfoni. Ahh, ini mengingatkanku padamu Erin. Bukankah dulu kita pernah bermimpi akan menikmati senja seperti ini, berdua saja di teras belakang rumah pantai kita ?

Erin, hati ini sepi sejak kepergianmu. Aku ingin berdua denganmu lagi, bercengkrama seperti biasa.

“Tuan Raffles, sudah malam mari masuk ke dalam.” kata seorang perempuan dengan tenang, meski sebenarnya ia nampak takut.

Aku mengangguk dan ia memapahku dengan lengannya yang kuat. Jericho, manula lainnya tertawa mengikik dan menganggu sekali suaranya. Ia menarik lengan perempuan itu, dan aku bisa melihat si payah itu berbisik.

“Hati-hati orang tua itu membunuh isterinya dua puluh tahun lalu,”

Pintu Panti jompo itu ditutup oleh perawat lainnya.

#31HariFF : Tiba-tiba menjadi ayah


dad

Aku membukakan mata dengan gusar. Kulirik jam di mejea kecil samping tempat tidur, ini bukan jadwalku bangun. Huh. Suara apa itu? bikin berisik. Bukan. Itu bukan suara gemuruh atau apapun. Itu terdengar seperti suara bayi.
Continue reading

#31HariFF : TEST PACK


TP

“Aku heran padamu Sairah, beranak kok tak habis-habis. Kau pikir aku pengusaha kaya yang mampu menghidupi tujuh turunan, kita ini miskin.”
Continue reading

Peter


ring

Peter menimang-nimang sebuah berlian di tangannya. Sebuah berlian mahakarya yang di ukir dengan sempurna. Berlian termahal yang pernah di belinya hanya untuk seseorang yang teristimewa.
Continue reading